Kamu bilang, ingin kembali
Sebab di sini satu-satunya tempat
Kamu sudah dinanti sesaat setelah pamit pergi.
Kamu bilang, ingin kembali
Sebab di sini satu-satunya tempat
Kamu bisa melihat perempuanmu rebah dalam lelap
di pundakmu sementara kau mengemudi.
Kamu bilang, ingin kembali
Sebab di sini satu-satunya tempat
Kamu tidak harus terus berpura-pura kuat.
Kamu bilang, ingin kembali
Sebab di sini satu-satunya tempat
Yang paling tabah ketika kamu datang hanya untuk singgah.
Kamu bilang, ingin kembali
Sebab di sini satu-satunya tempat
Kamu masih diingini bahkan saat kamu merasa tak berarti.
Kamu bilang, ingin kembali
Sebab di sini satu-satunya tempat
Kamu begini dicintai
Sekeras ini
Oleh perempuan ini.
Tapi sayang, kamu tidak juga kembali
Entah tak menemukan jalan karena sudah terlalu jauh pergi
atau justru telah menetapkan rumah sebagai tujuan pulang.
Selamat jalan.
23 Des 2012
19 Des 2012
Tidak apa-apa, asal kamu suka.
Sayang, aku belum mendengar kabar darimu satu minggu ini. Kamu bukannya menghilang, aku tahu. Kamu hanya tidak mencariku. Katamu, untuk apa dicari karena kamu tahu aku tidak pergi kemana-mana. Ya, aku masih di sini.
Sayang, saat kamu datang bukan karena rindu. Mungkin kamu hanya sedang ingin dibutuhkan. Tidak apa-apa, asal kamu suka.
Sayang, ini desember. Bulan-mu, dan bulannya hujan. Jika ingin bermain air, kau tinggal membuat banjir di mataku. Bisa hanya dengan diammu yang beku. Tidak apa-apa, asal kamu suka.
Sayang, yang sedang kau jadikan tempat bermain-main ini, hatiku. Kau tahu? Tidak apa-apa, asal kamu suka.
Jadi sayang, tahukah kamu? Aku tidak pernah memaksakan diri untuk menjadi seperti yang kamu suka agar kamu bertahan. Aku hanya berusaha membuatmu tinggal dengan nyaman. Beritahu aku jika aku tak lagi menjadi alasan bahagiamu, jika sakitku bahkan tak mampu menjadi penyebab sedihmu, jika menurutmu aku tak perlu lagi lebih lama tinggal.
Aku tidak apa-apa. Asal kamu suka.
denyut paling nyeri...
Saat punggungmu tak lagi terjangkau pandangan,
saat itu pula jarum jam berubah menjadi belati.
Tiap detiknya menghunjam jantungku yang mendetakkan rindu paling pilu;
—berkali-kali.
Kukira setelah jumpa, rindu akan menjadi baik-baik saja.Ternyata aku salah, jarak inipun bersalah.Satu yang benar; —ketidakpastian.Ketidakpastian akan kepulangan berikutnya.
Tapi aku masih belum jera,
memaksa bayangmu keluar dari persembunyiannya,
menjadikanmu nyata walau hanya di kepala.
Lalu aku menjadi seperti gadis gila,
berbicara, bercerita dan tertawa pada siluetmu yang beku.
Seketika nadi berdenyut nyeri,
mengalirkan bulir-bulir bening yang jatuh dari sudut mata, menelusuri pipi.
Menetes pada luka menganga di ulu hati.
Aku. Kalah. Sekali lagi.
rindu di hari rabu, tepat satu minggu setelah bertemu
Aku rindu gelak tawa kita yang pecah di tengah padatnya jalanan ibukota.
Tiba-tiba.
Aku rindu kita yang berpeluh luruh berbagi udara dalam satu pagut-kecup.
Tanpa rencana.
Aku rindu.
Rindu (kamu yang di) Jakarta.
ibukota, langitmu.
Jakarta..
Ibu dari semua kota; yang paling jumawa dengan kemegahannya. Tak pernah terpikir sebelumnya, akan menambatkan cinta milikku yang sangat sederhana di sana.
Ternyata..
Oleh salah satu anaknya, hatiku terbawa. Bukan, bukan terbawa. Baiklah, kuralat. Mungkin bukan terbawa tapi aku yang mengikutinya. Dia yang bahkan tak kutemui rupanya, dia yang belum tergenggam jemarinya. Aku dan dia hanya dikenalkan oleh semesta lewat linimasa.
Katakanlah aku yang terlalu mudah jatuh cinta.
Kamu..
Kamu merangkai ratusan aksara menjadi balon-balon udara, lalu menyimpul mereka erat, sambil berlari, cepat sekali. Lalu perlahan melayang, terbang. Sendirian.
Kamu yang sedang di langit jakarta mungkin juga terlalu asik berimajinasi, hingga melupakan gravitasi.
Kamu mungkin lupa, ada sepasang kaki yang masih berpijak di tanah memapah harap yang patah, ada tubuh yang mulai lelah, lalu rebah. Kepayahan bahkan sebelum sampai di tujuan.
Jadi, jika bukan aku yang mau kau temui setiap kali bermimpi,
jika bukan ada-ku yang kau ingini;
Aku tak punya banyak mau, tapi jika boleh meminta, turunlah sebentar saja. Beritahu aku, bahwa kota ini; —dan hatimu tak akan pernah termenangkan olehku.
20 Nov 2012
seperti kopi
Kamu, akan selalu seperti secangkir kopi,
mutlak meninggalkan rasa pahit, namun mengandung candu.
Sudah lama kugilai,
sampai akhirnya coba berhenti kusesap,
sebab takut membuat perih di lambungku sendiri.
mutlak meninggalkan rasa pahit, namun mengandung candu.
Sudah lama kugilai,
sampai akhirnya coba berhenti kusesap,
sebab takut membuat perih di lambungku sendiri.
Tapi entah, candu macam apa yang Tuhan ciptakan hingga kamu tak ma(mp)u kuhindari.
Dan aku, hanya menjadi serupa bibir, tak sanggup berhenti menyesapmu hingga tetes paling akhir.
Hingga tandas, tak bersisa di dalam cangkir.
Sampai akhirnya, rasa sakit di lambungku kembali.
Lalu mati rasa.
Sekali lagi.
19 Nov 2012
seperti ini, sepertinya.
“Aku seringkali meragu pada perasaan sendiri. Tentang rasa macam apa yang punya untukmu. Benar bernama cinta, atau terpaksa. Lalu aku bertanya pada dua mata di depan cermin, tak sedikitpun kutemukan jawaban tentang keterpaksaan. Yang kudapat hanya dua pesan; —jika belum bertemu dengan cara memperjuangkan, satu-satunya yang harus kulakukan adalah bertahan.”
12 Okt 2012
Mas! ♥
Urusan berpuisi, kamulah juaranya.
Tetapi, untuk menuliskan cerita kita, dalam rangkaian kata paling sederhana,selalu kucoba.
Cinta, suatu hari nanti, seperti yang kau janjikan;entah pada penantian , atau dengan kedatangan- kita akan bertemu dengan jarak yang terlipat dalam satu genggaman tangan.
Lalu menikmati senja di bawah langit yang sama, dua cangkir kopi dengan aroma berbeda,
Dan kita duduk berdua tanpa bicara, menulis bersama di beranda.
Ah, mas!
Lekas tuntuaskan rindu ini dengan kisah cinta paling bahagia.
Banjarmasin, Oktober 2012
-annisayus-
( ditulis untuk dan diedit oleh Tody Pramantha )
28 Sep 2012
Surat untuk senja
sumber foto : favim.com
Apa kabar, senja?
Bagaimana dengan jingga?
Masihkah kalian saling setia melukis rona— mengukir kenangan untuk pasangan-pasangan yang hatinya sudah siap (kembali) terluka?
Maafkan jika sekarang aku jadi jarang menyapa. Sebab di sana, sudah ada hati yang harus kujaga. Di seberang sana, ada yang rindunya harus kupelihara agar selalu nyaman pada tempatnya.
Saat ini kekasihku sedang enggan bicara padaku. Disebutnya ini jeda. Bukan, bukan ingin menjadikanmu sebagai pelarian jengah. Jangan dulu kau marah.
Kau masih ingat tentang aku punya luka?
Ya, rasa yang setia kubagi denganmu setiap kau baru tiba. Rasa yang pelihara sejak lama. Sepertinya sudah memasuki masa kadaluarsa. Jadi sudah bolehkah kupercayakan padamu untuk merawatnya?
Tak kuniati untuk lupa, nanti sewaktu-waktu akan kujenguk— bila aku mulai sulit mensyukuri tawa.
Karena dia; kekasihku, menawarkan jalan pulang menuju bahagia. Biar kuberitahu, dia pujangga penyuka malam, namun mampu menyibak kelam, menjauhkanku dari muram.
Dia tak datang bersama pagi, sebab dia yang kesayangan ini, sudah terbiasa kesiangan. Tapi percayalah, dia mampu memberi hangat sepanjang hari.
Deretan aksara yang terlahir dari hentakan jarinya bahkan lebih menenangkan dari sebuah pelukan. Dia yang menjanjikan pertemuan, entah dengan kedatangan, atau penantian. Kuyakini, bentangan jarak akan bersama-sama kami lipat dalam satu genggaman tangan.
Senja, aku berjanji setelah ini, tak lagi menudingmu penipu. Sebab kusadari, kau memang tak pernah menjanjikan jingga dua belas bulan kemarin akan kembali dengan rona yang sama.
Baiklah, ini sudah menjelang malam, aku harus pulang. Titip doa, agar kisah bahagia ini, tak lekas-lekas berganti duka.
annisayus - Banjarmasin, September 2012
goresan dari kedai kopi malam ini
sumber foto : favim.com
Sedih berwujud buih dari kafein beraroma kayumanis, belum juga tersesap habis. Ini sudah menjelang malam dan aku harus pulang. Lantas, tergesa kuhirup isi gelas begitu saja saat panas, hingga tandas. Menyeret kaki keluar dari kedai yang kudatangi sendirian. Gontai.
Sementara di sana, kau masih saja membatu dengan diammu yang beku. Pertengkaran di tengah rindu yang belum juga tuntas, tak pernah mampu disederhanakan. Menunggu bagaimana akan terselesaikan; pelukan tanda saling, atau menyerah sebab tak terbalas. Melelahkan.
Setelahnya, selalu ada jeda. Seperti sekarang ini. Membuat jengah. Aku selalu saja gagal faham mengenai jeda dalam cinta. Tak cukupkah bentangan jarak membuat rindu nyaman pada tempatnya (?) Entah.
annisayus - 8.14 PM - Titon’s coffee banjarmasin
29 Agu 2012
Dia kupu-kupu. Dia bukan jalang.
Dia hanya
kupu-kupu
Bukan kunang-kunang
Yang dicipta
bercahaya.
Dia hanya
kupu-kupu
Yang berpatut
diri di depan cermin
Sebelum menjadi
petualang menaklukkan malam
Tak jarang
digunjing bahkan dicerca.
Malam dia terbang,
siang mereka menyebutnya jalang
Mereka yang
kekasihnya-baru-saja-tadi-malam- dia belai perutnya
Dengan kepakan
sayap telanjangnya.
Sayap rapuh yang
terlihat kuat karena memang begitu seharusnya
Sebab di sana, di
dalam kepompong tempat Ia lahir dahulu,
Banyak ulat-ulat
yang dicegahnya bermetamorfosa
Agar tak segera
terbang dan menjadi seperti nya.
Lalu siapa yang
sebenarnya jalang?
Wahai kalian yang
kekasihnya rela membayar kupu-kupu terbang malam yang kalian teriaki jalang.
Racau sebelum tidur
Aku tak sedang
mabuk
hanya saja sudah
mulai mengantuk.
Telah lelah
bergurau dengan rindu yang tak kunjung tidur.
Bercerita tentang
pilu dengan mata yang masih sembab
belum sempat
memejam
bercerita tentang
cinta yang ditanggung sendirian dalam diam.
Kucukupkan
berserapah pada takdir, mengatur garis tangan
sebab ada ganjil
yang memang tak untuk tergenapkan.
Dia satu.
Dia (bukan) aku.
...
Bukan
perkara
cemburu
pada
siapa-siapa
yang
bersanding
bahu
denganmu
hanya
terlampau
merindu
saat
pertama
bertemu
yang
entah
kapan
sang
waktu
mau
mau
memberi
restu.
aku mencintaimu. begitu.
Demi jauh yang
tak tercapai
Demi tinggi yang
tak juga tergapai
Demikian aku
jatuh pada cinta yang diam
Menanggung rindu
sendirian
Beraninya
menantang Tuhan
Mengatur garis
tangan
Agar sudi memberi
kesempatan
Menggenggam
bagian terkecil saja di dirimu.
Jari jemarimu.
Yang dari
hentakannya terlahir jutaan kata yang kupuja dalam bisu
Yang genggamannya
buatku merindu dalam semu
Demikian, aku
hamba yang berkhianat pada masa lalu
Lalu berpaling
mengimani aksara yang kau tuliskan dalam lembaran kitab,
dan kuamini sebagai pilu.
Kepadamu, yang batu.
Dua belas bulan,
kau bermain diam tanpa cela.
Menantangku
bertarung menghitung antara kau dan aku,
Siapa yang
terbanyak punya rindu.
Sedang aku tak
peduli siapa yang paling,
sama sekali tak
penting.
Sebab dalam
hening, doaku sedang bising
Melafalkan kebaikan
atas namamu di tiap sujudku.
Dan nanti, sampai
tak ada lagi aku yang menanti,
apalagi mencari.
Kau yang batu,
telah kusemayamkan ceritamu
di bilik terdalam
hatiku.
Aku tahu kemana
harus sesekali menziarahi, jika sudah terlampau rindu.
Ke pusara hatimu
yang telah terkubur
gundukan kenangan
dengan nisan tak bernama.
Jangan marah pada
tanah merah; jangan pernah.
Jangan marah –
karena aku-pun tak pernah marah ketika kau mengaminkan kita berpisah.
Lalu biarkan yang
kelam menjadi buram oleh malam
Semoga tak ada
lagi pilu yang muram.
Sejatinya ganjil
yang tak bisa tergenapkan adalah bilangan satu.
Dan bukan aku.
17 Jul 2012
Does the problem is in me?
Me : "Sedih. Tahun ini gak ada agung lagi."
Her : "Ada aku. Tahun sebelumnya juga ga ada dia, kan? Tapi aku ada terus. :)"
Me : :')
Then..
She was gone.
With the girl she called girlfriend.
Choose her choice.
Leave our friendship even our sisterhood after 6years.
I never been this dissapointed before.
There's no one can make a distance between us, even our each mate (before)
But her bitch girlfriend done it well. Just now.
this year recently
I lost TWO closest and I Love the most Persons.
TWO in a year..
Two (of three) persons who within' me on my last year birthday.
I've tried my hardest to save them, but they walk out of my circle.
Then what's wrong with me?
Her : "Ada aku. Tahun sebelumnya juga ga ada dia, kan? Tapi aku ada terus. :)"
Me : :')
Then..
She was gone.
With the girl she called girlfriend.
Choose her choice.
Leave our friendship even our sisterhood after 6years.
I never been this dissapointed before.
There's no one can make a distance between us, even our each mate (before)
But her bitch girlfriend done it well. Just now.
this year recently
I lost TWO closest and I Love the most Persons.
TWO in a year..
Two (of three) persons who within' me on my last year birthday.
I've tried my hardest to save them, but they walk out of my circle.
Then what's wrong with me?
16 Jul 2012
Terkenang kenangan yang selalu dikenang
Kenang(ingat)an.
Kenangan tidak untuk diperjuangkan untuk dilupakan.
Itulah mengapa bernama kenangan.
Mereka terlahir untuk dikenang-kenang.
Dan selalu ada yang terkenang-kenang.
Bukan berarti mesti dikembalikan.
Hanya saja Saya kadang dan sedang merindukan pelukan.
Walau jauh dari kemungkinan, Saya bisa pastikan doa untuk segala kebaikannya sudah menjadi keharusan.
Tak lupa Saya titipkan pada tangan yang menadah di atas sajadah yang membentang.
Meski bolamata saya sedang basah tertusuk serpihan kaca di bola mata barusan.
Dan Hujan di luar jendela seakan mengandung partikel-partikel rindu yang tak tertahankan.
Kepadanya,
Tuan yang mengamini perpisahan - pejuang kepergian, yang kepadanya;
Rindu tak pernah mampu Saya sederhanakan.
annisAYUs
Banjarmasin, 15 Juli 2012. 2:45 AM.
Kenangan tidak untuk diperjuangkan untuk dilupakan.
Itulah mengapa bernama kenangan.
Mereka terlahir untuk dikenang-kenang.
Dan selalu ada yang terkenang-kenang.
Bukan berarti mesti dikembalikan.
Hanya saja Saya kadang dan sedang merindukan pelukan.
Walau jauh dari kemungkinan, Saya bisa pastikan doa untuk segala kebaikannya sudah menjadi keharusan.
Tak lupa Saya titipkan pada tangan yang menadah di atas sajadah yang membentang.
Meski bolamata saya sedang basah tertusuk serpihan kaca di bola mata barusan.
Dan Hujan di luar jendela seakan mengandung partikel-partikel rindu yang tak tertahankan.
Kepadanya,
Tuan yang mengamini perpisahan - pejuang kepergian, yang kepadanya;
Rindu tak pernah mampu Saya sederhanakan.
annisAYUs
Banjarmasin, 15 Juli 2012. 2:45 AM.
9 Jul 2012
so called "errr..."
Kamu.
Masuk tanpa mengetuk.
Memutar anak kunci tanpa permisi.
Kamu.
Tamu yang berlagak seperti Tuan.
Di rumah tanpa jendela bernama hatiku.
Menjual bual yang sialnya ku percaya begitu saja.
Terus begitu hingga ku terbiasa.
Terbiasa dengan kau yang pergi tanpa minta diri.
Kemudian datang lagi tanpa janji.
Sampai ketika kau pulang, ke sini, ke rumah kita.
Membawa anjing betina yang kau puja.
Menjadikannya nyonya jalang di rumah ku, di rumah kita.
Sementara aku?
Hanya kau sisakan bilik di sudut bernama cemburu.
Kau, bajingan.
annisAYUs
-Banjarmasin, 9 Juli 2012-
Masuk tanpa mengetuk.
Memutar anak kunci tanpa permisi.
Kamu.
Tamu yang berlagak seperti Tuan.
Di rumah tanpa jendela bernama hatiku.
Menjual bual yang sialnya ku percaya begitu saja.
Terus begitu hingga ku terbiasa.
Terbiasa dengan kau yang pergi tanpa minta diri.
Kemudian datang lagi tanpa janji.
Sampai ketika kau pulang, ke sini, ke rumah kita.
Membawa anjing betina yang kau puja.
Menjadikannya nyonya jalang di rumah ku, di rumah kita.
Sementara aku?
Hanya kau sisakan bilik di sudut bernama cemburu.
Kau, bajingan.
annisAYUs
-Banjarmasin, 9 Juli 2012-
Hujan Kali Ini. ( Bagian Dua)
Hujan kali ini, tak (lagi) ku benci.
Beramai-ramai mereka menjatuhiku menghujam wajah sepiku.
Bergumul dengan rindu yang sudah terlampau.
Merubah wujud sunyi menjadi ingatan yang memagut meremukkan tulang.
Yang kemudian serpihan belulang itu menyusup menusuk tepat di nadi tempat rindu berkumpul.
Kau datang, kali ini bersama hujan.
Dalam tiada, kau kurasa.
annisAYUs
-Banjarmasin, 9 Juli 2012 3:43PM-
Beramai-ramai mereka menjatuhiku menghujam wajah sepiku.
Bergumul dengan rindu yang sudah terlampau.
Merubah wujud sunyi menjadi ingatan yang memagut meremukkan tulang.
Yang kemudian serpihan belulang itu menyusup menusuk tepat di nadi tempat rindu berkumpul.
Kau datang, kali ini bersama hujan.
Dalam tiada, kau kurasa.
annisAYUs
-Banjarmasin, 9 Juli 2012 3:43PM-
19 Jun 2012
akhir yang tak usai
~ ku harus pergi meninggalkan kamu yang telah hancurkan aku. Sakitnya, sakitnya, oh sakitnya.. ~
Dari jejaring sosial, kami saling kenal dan dari situs pertemanan ini juga telah menjadikan ”kisah yang bercerita” Kisah di mana kehancuranku di mulai. Cerita yang tak perlu bercerita panjang lebar, karena hanya deretan album foto mereka sudah cukup berkuasa menghempas harapanku. Kesakitan dan kepedihan yang kuterima di lima belas bulan, yang hanya kurasakan manisnya dalam enam bulan pertama terjawab sudah. Tak hanya patah, saat ini telah pecah, menjadi keping luka juga duka.
---
Maret 2011
Cinta itu sungguh-sungguh sesukanya. Dia tak pernah memilih kapan dan kepada siapa akan menjatuhkan bahagia juga lukanya. Bersiaplah untuk merasakan kehadiran dan kepergiannya. Maka, kau tak akan mampu menolaknya.
Namaku Melisa Lindya, lebih akrab dipanggil Linda. Aku mahasiswi akademi keperawatan berusia 22 tahun yang sedang sibuk-sibuknya merampungkan tugas akhir. Demi sebuah impian yang memang sudah aku cita-citakan, aku bertekad untuk fokus pada kuliah. Dan secara kebetulan saat itu aku masih berstatus single. Single happy, begitulah aku menjuluki diriku sendiri.
Untuk mengusir kejenuhanku yang bisa menyerang kapan saja, aku memilih dunia maya sebagai salah satu penghibur diri. Dengan akun facebook yang kumiliki, aku bisa berteman dengan siapa saja. Mulai dari saling sapa di wall to wall sampai berkelakar di bilik obrolan. Hanya sebatas itu saja, aku hanya bisa masuk ke dunia maya saat hari-hariku sudah begitu jengah dengan kehidupan nyata.
Sore itu, salah satu akun yang sebenarnya sudah sering kulihat di halaman beranda facebook-ku menyapaku di bilik obrolan, karena memang sudah lama akun tersebut ada di daftar pertemananku. Sama seperti lainnya, basa-basi yang sudah basi. Hanya saja, kali ini berakhir pada bertukarnya nomor telepon selular. Dia memperkenalkan diri, namanya, Rivani Farid.
”Aku ingin mengenalmu lebih dari dunia maya." Sebaris kata yang mampu membuatku rela memberikan nomor ponselku.
Riri, panggilan yang kulontarkan sekenanya, karena malas bertanya nama panggilannya. Dan dia terima saja.
”Kamu tau kita sekota? ”
”ya?”
”Tau tempat tinggal kita jauhnya tak lebih dari satu kilometer?”
”ya, lalu?”
"Jadi gak keberatan dong kalau sore ini aku ngajak kamu ketemu? Ya siapa tau aja stress kamu sama tugas akhir itu bisa hilang setelah liat mukaku yang lucu"
Berbalas Pesan singkat di tengah jam kuliah siang itu, dan lagi-lagi kujawab sekenanya, tanpa pikir panjang.
"Dasar! :D
"Oke, atur aja. Aku selesai jam 5 dan langsung ke taman kota, ya? Nanti kukabarin lagi"
Di awal perjumpaan, tidak ada yang terlalu menarik, tak banyak kesan, hanya chit-chat yang over all menyenangkan.
Setelah pertemuan itu, Rajin sekali dia mengirimkan pesan-pesan singkat, yang bisa membuatku tersenyum tersipu malu. Hanya saja otak warasku masih bisa mengingat prioritasku saat itu. Kuliah, kuliah dan kuliah. Maka kuanggap angin lalu saja semua rayuan hingga perhatiannya.
---
Perjumpaan berikutnya, seperti biasa sedang berbalas pesan. Dia bilang lelah dan ingin pulang tapi tak ada kendaraan. Kendaraannya sedang dipinjam seorang teman yang tak tahu kapan akan dikembalikan. Di luar, langit mendung, tak ada yang sedang kukerjakan. Kemudian aku mengambil inisiatif yang entah darimana datangnya dan belakangan kupikir adalah awal dari kebodohan.
”Mau kujemput? Lagi bengong nih, lagian nanti keburu ujan malah gak bisa pulang.”
”Eh beneran? Dengan senang hati dan riang gembira jika kamu gak keberatan. Makasih, manis.”
”Lelakilebay! :p”
Duapuluh menit berikutnya, kami sudah berboncengan dengan motorku menuju rumahnya. Aku bisa merasakan dia sengaja memperlambat laju kendaraan, padahal saat itu jalanan sedang lengang. Cerita tentang keluarganya begitu saja terlontar dan kudengarkan dari belakang boncengannya. Dari kantornya yang jauhnya sekitar tigapuluhlima menit ke rumahnya.
”Nanti sampai rumah gak boleh langsung pulang, ya? Mau aku kenalin ke Ummi. Siapa tau kalian cocok dan kamu bisa jadi teman ummiku, gitu. Beliau tinggal sendiri di rumah. Pasti senang kubawain mbak perawat cantik.”
Belum begitu sampai di rumahnya, hujan turun dengan derasnya. Seolah ingin mengulur waktu agar aku bisa berlama-lama di rumahnya. Ngobrol dengan ummi yang senyumnya teduh tak jauh seperti ibuku. Dan terlihat masih cantik untuk seusia beliau.
Di luar masih gerimis kecil dan udara lumayan dingin. Tapi hari, sudah menjelang malam dan aku harus pulang.
”Hati-hati ya, cantik, terimakasih sudah menemani ummi. Ummi senang dengan kehadiran kamu, dan setelah ini kamu harus sering-sering main ke sini.”
Deg! Aku merasa tersanjung. Belum pernah ada lelaki yang mengenalkan dengan ibunya di awal perkenalan, dan baru dia yang seperti itu. Seketika wajahku merah merona, ada rasa bangga dan malu yang tak bisa kusembunyikan di hadapannya. Dia memaksaku pulang memakai jaketnya walaupun agak kebesaran dan baru saja dipakainya tadi.
”Di luar dingin, kalau mbak perawat masuk angin, gimana? Kan gak lucu. Udah pake aja gak usah bandel deh!”
Begitu kuat aroma tubuh maskulin dari jaketnya, membalut setengah tubuhku. Hangat yang tidak biasanya. Ya, aku jatuh cinta. Sepertinya.
---
Selalu ada yang berikutnya dari sebuah pertama
Dari pertemuan pertama, ke pertemuan berikutnya yang semakin sering, kujalani begitu saja tanpa mencari tahu dan memilih untuk tidak terlalu memikirkan akan kemana dan seperti apa hubungan ini selanjutnya. Yang aku tahu, aku begitu menikmati setiap waktu yang kulalui bersamanya.
Bila memang aku dan dia sama-sama bahagia tanpa adanya satu ikatan, tak ada masalah bukan? Tidak ada yang inginaku ubah dari hubungan ini. I don’t really need to look very much further, I’ll never ask him for to much.
Dan hari ini, 5 April 2011 di cafe yang awalnya kukira pertemuan seperti biasa, ternyata berubah menjadi makan malam romantis yang sengaja dia siapkan. Tak ada mawar merah, atau lilin. Aku menyebutnya romantis karena ada dia di depanku dengan senyum yang tidak seperti biasanya dan dari pengeras suara yang terpasang di sudut langit-langit cafe ini, sayup terdengar lagu-lagu romantis.
”Gak perlu berlama-lama untuk menyadari aku sayang kamu, Linda. Aku menginginkan kita mendekatkan hati yang memang kurasa sudah dekat lebih dari ini. Aku Rivani farid ingin menjadi pelindung dan sandaranmu.”
”Tapi ini terlalu cepat” hanya kalimat itu yang bisa keluar dari mulutku dengan tampang bodoh, malu, salah tingkah, bahagia dan tertunduk malu.
”Ya, I know it’s too fast. Tapi aku gak tergesa-gesa. Aku memperhatikanmu dari awal pertemuan kita. Aku nyaman denganmu dan hatiku sudah memilih.
"Please hold my hand, look at my deepest eyes, and tell me. Will you, Melisa Lindya?”
Aku tak pernah melihatnya berbicara dengan mimik seserius itu sebelumnya. Bahkan menatap berlama-lama saat dia bicara pun rasanya aku tak sanggup.
”Iya, we shared the same feeling, Ri. I definitely in love with you. Aku juga menginginkan kita lebih dekat dari ini” yang sayangnya hanya bisa kuucapkan dalam hati.
Dalam genggaman tangannya, aku mengangguk dan mengiyakan apa yang dia katakan. Anggukan yang belakangan pula baru kusadari menjadi awal dari segala cintaku yang benar-benar tunduk.
Tak banyak kata yang terucap setelah itu. Tapi aku tahu, hatiku melafalkan doa dalam bahagia yang tak terhingga. Aku sekarang dimilikinya. I’m officially Rivani Farid’s, He is officially being my beloved.
Awal yang indah.
Usia berpacaran yang masih sangat baru, tapi sikapnya sudah semakin menunjukkan keseriusannya. Membawa diri masuk ke dalam hidupku dan sekitarku, dan membawaku semakin jauh mengenal orang-orang terdekatnya. Seolah ingin semua orang yang mengenalnya tahu bahwa sekarang ada aku yang bersamanya. Keluarganya, teman-temannya seperti merentangkan tangannya lebar-lebar untukku. Meyakinkanku bahwa aku sudah menjadi bagian dari mereka. Aku merasa sangat diterima dan semakin nyaman dengannya.
Seminggu, sebulan, seratus duapuluh hari pertama, masa di mana berpacaran sedang lucu-lucunya dan sedang mesra-mesranya. Tak terhitung menyisipkan ”I love you” sebagai pengantar memulai hari, pembunuh bosan di sela kesibukan. Pertemuan yang setiap hari, untuk sekadar makan siang bersama, atau mengantar pulang, masih saja tak cukup. Membunuh jarak yang hanya satu-tiga kilometer dengan pesan singkat dan telepon selama tak terjangkau oleh pandangan satu sama lain. Rindu selalu merangkul bahkan ketika kami hanya berjarak satu pelukan.
Sesederhana itu. Aku mencintainya. Sangat, dan semakin mencintainya.
---
~Aku tak mengerti cinta indahnya hanya di awal kurasa. Mengapa kau benar, dan aku selalu salah~
Bulan ke-lima, hubungan kami mulai memasuki konflik. Perseturuan yang sebenarnya bisa dengan mudah direda. Dari cemburu hingga perbedaan pendapat. Tapi intensitas perselisihan yang semakin sering tanpa sebab yang jelas, dia menjadi sangat mudah marah, sedikit saja ada kata yang salah, selalu akan berujung pada masalah.
Aku tidak begitu ingat awal mula masalah ini, karena memang aku berusaha untuk tidak mengingat bagian yang tidak indah. Berkali kali, hingga sering kali dia menguji kesabaranku. Dengan hal sepele yang membuat hubungan kami semakin runyam.
Sedinginnya kota ini lebih menakutkan jika kamu yang mulai membeku.
Berkabar melalui pesan singkat dan telepon tak sesering dulu. Hingga akhirnya ponselku tak lagi berbunyi membawa kabar darinya jika bukan aku yang memulai bertanya. Itupun dengan jawaban seadanya.
Waktu untuk bertemu yang dulu begitu sering, sekarang sudah tidak terjadi lagi, jangankan setiap hari, sekali seminggupun tidak mesti. Pekerjaan selalu dijadikan alasan utama. Ditambah lagi dengan hobi baru (yang katanya) memelihara burung berkicau, seolah menenggelamkan diri dalam hobinya untuk sengaja menghindar dariku.
Seperti membangun tembok pembatas, sekadar untuk mengintip hari-harinya pun aku tak kuasa. Setiap kali mengajak bertemu, memintanya ke rumah atau meminta izin ke rumahnya, selalu dibatalkan dengan bermacam alasan. Dan setelahnya, bisa aku pastikan, dia hanya bisa terdiam. Selalu ada jeda yang membuatku jengah.
---
September 2011
Akhirnya, aku menjemput hari ini. Hari dimana jenjang diplomatiga-ku selesai, dan aku resmi menjadi Ahli Madya Keperawatan. Masa dimana pintu masuk menuju cita-citaku telah terbuka. Kebahagian terbesarku adalah saat orangtua ada di sampingku dengan senyum bangga.Tapi sungguh dalam hatiku, kebahagiaan ini tak sempurna, terasa tidak lengkap. Dia tak datang di hari ini.
Untuk kesekian kali, aku menghardik egoku sendiri. Marah pada pikiran yang tidak baik tentangnya. Memaksa batinku untuk mengerti ketidak-adaannya. Dan meyakinkan bahwa pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan, adalah satu-satunya alasan dia yang paling benar.
---
Oktober 2011
Dengan hubungan yang semakin dingin dan tak mau larut dalam fresh graduate Euforia, aku mulai menyibukkan diri dengan menyebar lamaran pekerjaan. Aku sadar, ada keluarga yang menantiku di balik langkah yang aku ambil selanjutnya. Aku tidak bisa dibilang perawat jika aku tidak bekerja benar-benar menjadi perawat.
Sesekali menelpon bercerita tentang semangatku.
”Cari kerja di sini aja. Aku tak akan bertahan dalam jarak”
Responnya yang kemudian diikuti dengan hilang. Sebenarnya akan lebih menyenangkan jika saja kalimatnya seperti ini; ”kamu kerjanya di sini aja ya, aku gak bisa jauh-jauh dari kamu”. Tapi aku cukup sadar diri, aku tak boleh banyak punya mau di keadaan yang seperti ini. Mungkin saja itu caranya mengungkapkan keinginan untuk selalu berdekatan denganku.
Aku selalu mampu menjadi pemenang dalam debat dengan egoku sendiri.
Aku selalu mampu menjadi pemenang dalam debat dengan egoku sendiri.
Di daerahku saat itu mungkin sedang tidak butuh tenaga medis karena, memang hanya ada satu rumah sakit dengan tenaga medis yang cukup. Bukannya aku tidak berusaha, aku sudah mencoba mendatangi rumah sakit hingga klinik, jawabannya sama. Mereka tak sedang membutuhkan pekerja.
---
November 2011
Aku tahu, tak mungkin aku berhenti. Diri yang semakin dipaksa untuk terbiasa dengan tiadanya. Ketika mendengar kabar bahwa salah satu rumah sakit di kota sebelah sedang membutuhkan tenaga medis, tak banyak lagi yang kupikirkan saat itu. Bergegas aku ikuti serangkaian tes dan tidak ada kesulitan berarti. Dengan mudah aku masuk kriteria yang mereka cari. Jarak satu setengah jam dari tempat tinggal tidak menyurutkan semangatku. Semangat yang susah payah kuciptakan sendiri, sama sekali tak ada campur tangannya saat itu.
Hari pertama bekerja. Berseragam putih polos dan dengan rasa percaya diri, aku begitu bangga memakainya. Pergi dari rumah dengan restu orang tua. Cukup sekali untuk memulai hari baruku. Aku bahkan belum memberitahu dirinya tentang semua ini. Aku pikir dia merasa tak butuh tahu hidupku saat ini.
”Aku sudah bilang, aku tak akan bertahan dengan jarak. Selamat untuk pekerjaan barumu, dan selamat menikmati kebebasanmu dari aku. Selamat bersenang-senang tanpa aku. Kita selesai.”
Pesan singkat yang kuterima di hari ketiga aku bekerja. Baru sempat ku baca sesaat selepas dinas. Tuduhan yang paling menyakitkan untukku. Tak banyak yang kulakukan. Aku berontak dalam diam. Masih menjadi tanda tanya, di mana letak kesalahanku padanya, hingga akhirnya dengan tega dia mengirimkan pesan singkat seperti itu, begitu menyesakkan. Aku hanya mampu menangis hebat di sepanjang perjalanan pulang. Sebab aku, terlalu takut untuk membela diri sendiri.
Hari berikutnya, aku memutuskan untuk menyibukan diri dengan pekerjaanku. Memilih mengambil lembur untuk sekadar melupakanmu walau hanya sepejam waktu. Mungkin, dengan begitu, ketika sampai di rumah, aku tak perlu berlama-lama untuk tertidur pulas, danaku harap, ini bisa terjadi setiap hari.
---
Desember 2011
Kau masuk tanpa mengetuk, memutar anak kunci tanpa permisi. Tamu yang berlagak seperti tuan. Datang kemudian pergi tanpa minta diri lalu kembali tanpa janji.
Ya, seperti itulah dia. Yang seminggu kemudian kehadirannya diwakili oleh pesan singkat seperti tak terjadi apa-apa sebelumnya.
”Apa kabar, kamu? Aku kangen. Kau tau aku tak bisa jauh darimu”
Celakanya, begitu saja kubukakan pintu untuknya. Tak bisa kupungkiri, aku begitu merindukannya. Maka, ketika dia datang, kembali lengan hatiku terbentang untuk memeluk cintanya lagi. Cinta, mendidikku menjadi seorang pemaaf. Atau, cintaku yang memang benar-benar pemaaf? Ataukah sebenarnya, tidak ada yang perlu dimaafkan, karena tak ada yang salah dalam hubungan ini?
Hubungan kami berjalan dengan langkah yang baru. Tidak ada pertemuan, tidak ada jalan beriringan, pun makan malam bersama seperti dulu. Berjam-jam pelukan dia berhutang padaku, seminggu tanpa kabar, kemudian hanya sehari berbalas dengan kalimat mesra. Seperti itu seterusnya. Seingatku saat itu aku tak tahu apa yang sedang aku jalani, tapi, kuterima saja, bisaku hanya berontak dalam diam.
Cintaku sedang diuji, terlalu sakit untuk bertahan, juga terlampau sulit untuk melepaskan.
---
April 2012
Yang lebih pedih dari airmata adalah; malam yang dikecup kesunyian dan rindu yang dipeluk kesendirian.
Hari ini seharusnya milik kami, hariku berdua dengannya. Aku sedang merayakan hari jadi setahun hubungan cinta ini, seorang sendiri. Dalam ketiadaanya, tanpa dia tahu, tak banyak yang kumau. Hanya melafalkan doa-doa yang kuharap dipanjatkan juga olehnya. Melewati ujian ini, tak banyak yang kupinta. Satu kebahagiaan untuknya dan memohon Riri-ku kembali seperti dulu.
---
Mei 2012
Jika cinta sudah memilih ke mana ia akan jatuh, maka. baik-buruk bahkan salah-benar pun terasa begitu samar.
”Lin, coba sms pacarmu deh. Aku barusan liat dia boncengan sama perempuan” pesan dari seorang teman lewat blackberry messenger.
”Linda sayang, Riri punya bb ya? Aku liat profil bbmnya di bb teman, display picturenya perempuan, tapi bukan foto kamu.” Ini pesan singkat dari teman yang lain.
“Dia gak punya bbm profile karena dia bukan bb user. Bukan dia kali.”
“Kamu percaya aku atau percaya orang-orang itu, terserah padamu.” Jawaban Riri ketika aku bertanya. dengan rasa takut dan berhati-hati sekali.
Tidak. Mereka salah. Pasti salah lihat. Yang mereka lihat bukan Riri-ku, pasti hanya mirip.
Riri hatinya masih milikku, dia menjauh bukan untuk berkhianat. Dia tak akan meludahi janjinya sendiri.
Aku sudah hebat bukan untuk urusan meyakinkan diriku sendiri?
---
Juni 2012
Mungkin awal dari segala kesedihan adalah keingintahuan, namun, dengan segala ketidak-siapan akan jawabannya.
“Linda, please, kali ini dengar aku. Aku tak ingin kamu sakit, tapi kali ini kamu harus lihat. Untuk kamu dan cintamu.” ini pesan dari sahabatku.
”Ada apa? Kenapa dengan cintaku?”
“Aku liat akun facebook perempuan yang penuh dengan foto mesra kekasihmu dengan perempuan itu. Melda Mel Mel. Buka, sekarang”
Lidahku terasa kelu, jariku seketika kaku, hatiku? Tak beku, namun berdarah. Foto mesra paling menjijikkan yang pernah aku lihat sepanjang hidup. Aku tahu perempuan itu, wajahnya sudah tidak asing buatku. Aku, dia, dan Riri tinggal di kota yang sama, hanya saja aku tidak pernah mengenalnya. Riri juga belum pernah memperkenalkan perempuan itu sebagai temannya.
Tapi aku lebih kenal dengan lelaki yang bersamanya di foto itu. Saling menempelkan pipi dengan senyum mengembang, saling menggenggam dengan lingkar cincin di jarimanis mereka. selayaknya sepasang kekasih, sangat mesra. Hanya saja, lelaki di foto itu adalah kekasihku, Riri-ku. Foto itu diunggah pada bulan Desember 2011. Setengah tahun dalam limabelas bulan dilalui Riri dengan penghianatan.
Hujan membasahi sudut mataku dalam sekejap, tumpah, tanpa bisa kutahan derasnya, tak habis-habis, meski sudah terbuang sepanjang malam itu. Sayangnya, di luar sedang tidak turun hujan. Maka, tak ada pula yang bisa menyamarkan bulir airmata di pipiku.
---
Mimpi tak selalu bersanding indah dengan kenyataan dan terlalu dalam cinta adalah petaka.
Teringat status facebook terakhir si jalang; ”Tak baik terlalu mempertahankan sesuatu yang sebetulnya tak pernah benar-benar kau miliki.”
”Hai, Melda. Kenalkan namaku Linda. Melisa Lindya. Nama kita hampir mirip, ya? Kita sama-sama perempuan dan sama-sama pacarnya Riri.”
“Dia serius sama aku. Hanya belum menemukan waktu yang tepat melepas tanpa menyakitimu. Dia memberiku cincin”
“Aku juga punya cincin darinya”
“Tapi dia tak menyimpan apapun dariku”
“Itu beruntungnya kamu (yang masih) pacarnya , Rivani Farid (Riri-ku) tak menyimpan satupun rahasia darimu. Sebentar, itu keberuntungan ya, menurutmu? Dengan sadar menjalin kasih dengan kekasihku. Jadi kau ingin disebut apa selain jalang?”
”hbwqidfy36d904ur01kld[c3mksxy”
Makian yang memuaskan.
Setidaknya berbicara sendiri pada pasangan kekasihku menjadi unggul dalam berkhianat sudah terpenuhi. Tak peduli ada-tidaknya rasa bersalah atau bahkan terluka. Tak peduli bahwa bila di sini, hanya aku yang hancur.
---
Akhir adalah ketika tak ada lagi cinta untuknya. Maka, ku pasrahkan bahwa perpisahan ini tak pernah benar-benar usai.
”Maaf untuk kesakitanmu. Tak pernah ku niati membalas cintamu dengan dusta. Aku hanya jenuh, namun tak ingin kehilangan. Dia hanya persinggahan, dan ke hatimu aku akan pulang.”
”Pernah kau sengaja mengajakku memakai baju berwarna senada saat kita bertemu? Pernah kau mengijinkanku memperlihatkan cincin yang kau bilang lambang cinta dan hanya boleh dinikmati oleh kita berdua? Cincin ini ternyata bukan sepasang, Rivani Farid. Cincin ini dua. Kau tau apa bedanya sepasang dan dua?”
”Maaf”
”Tak perlu minta maaf. Tak ada yang salah dengan cinta. Cintamu kepadanya sekalipun. Berdiri congkak di atas dusta.”
”Aku akan selesai dengannya”
”Juga denganku”
”Aku tau kamu masih mencintaiku”
”Cerita kita yang akan selesai. Aku tidak sedang membicarakan cintaku”
Dia terlihat tak lebih mulia dari seorang bajingan yang mengaku tak suka wanita jalang.
Tapi seperti yang kubilang, aku punya cinta yang luar bisa pemaaf.
Seluruh identitas jejaring sosialku yang terselip namanya tak kurubah. Namanya di daftar kontak ponselku-pun ku biarkan begitu saja seperti sebelumnya. Gambar tampilan perpesanan berryhitamku masih foto berdua yang terakhir kami abadikan. Di wallpaper ponselku, aku masih kekasihnya.
”Jika hanya sebuah maaf, percayalah, lebih dari itupun sanggup kuberi. Sekali ini saja, aku sungguh ingin diperjuangkan. Bukan hanya di depan kita berdua, tapi di hadapan wanitamu yang kau pilih masuk dalam bagian cerita kita”
Kalimat terakhir tadi, (masih) tersimpan di folder draft fitur pesan di ponselku.
Kubiarkan ”tertidur” saja dulu, karena aku belum siap dengan kesakitan selanjutnya.
Banjarmasin, 16 Juni 2012
(Ditulis sepanjang pukul duabelas siang hingga pukul duabelas berikutnya ketika malam.)
Untuk teman di ujung bentangan jarak, yang belum diberi restu oleh waktu untuk bertemu @melindarie
Diedit oleh Tody Pramantha
annisAYUs
13 Jun 2012
have you ever?
~ maybe you don't miss me like I miss you but I don't know why today you don't love me like I love You ~
Pernahkah kamu merasa sedih begitu dalam
hingga bahkan membuat mu tidak bisa bernafas?
Aku pernah.
Saat ku merindukanmu.
Pernahkah kamu merasakan rongga dadamu dipenuhi udara
tapi kau bahkan tak sanggup menghirup-hembuskan nafas
hingga udara itu menyesakkan dada mu?
Aku pernah.
Saat ku merindukanmu.
Dan taukah kamu?
Celakanya rindu padamu sudah tercampur di udara yang ku hirup.
Bagaimana bisa? Aku pun tidak begitu mengerti.
Yang ku tau aku rindu dan ku nikmati.
~there is someone on and on tell about you and those memories keep spreading on my mind tells a story about you, The girl who never understand what's in your fuckin` head ~
Pernahkah kamu merasa begitu kosong.
Iya kosong, tak satu-apapun ada.
Bukan, bukan tak ada satu-apapun.
Mungkin ada hampa.
Nah, pernahkah kamu merasakan hampa yang menyesakkan?
Seperti ingin mendelesak keluar dan mencekik lehermu?
Aku pernah.
Ketika restu bumi tak lagi untuk kita.
Oh, bagaimana bisa aku menyebut kita?
Baiklah ku perbaiki menjadi aku-kau.
Ketika menyadari bahwa tak ada lagi kau dalam kita.
Hanya ada aku.
Berpelukan dengan sunyi di sudut rindu.
~ fuckyou what you have done to me, fuckyou I can't hate you, fuckyou for this feeling, fuckyou why i am still lovin` you ~
Aku melankolis? Ya.
Aku drama? Iya sering kali.
Tapi tenanglah kau, aku masih sanggup bertahan tak mati terbunuh sepi.
Aku di sini menikmati sunyi yang beramai-ramai mendoakanmu.
Meskipun ingin sekali bilang "Aku tak akan menyerah, untuk kita"
Tapi bagaimana bisa ketika jangankan berjuang, kau bahkan tak tinggal untuk sekedar bertahan.
Ah, apa lagi tadi?
Aku (masih saja) menyalahkan mu?
Maaf.
Aku memang terus saja menyalahkan kau, dan (si)apapun yang ada saat itu.
Sampai sekarang-pun.
Bukan benci, aku hanya merasa satu-satunya orang yang berjuang, dan bertahan dalam ketiadaanmu.
Yasudahlah, sepertinya cukup.
Dan pernahkah kamu merasakan bagaimana rasanya memelihara rasa yang sebenarnya sudah lama kadaluarsa?
Kamu tau bagaimana rasanya?
Aku pernah, sedang, dan masih.
Ini bukan perkara aku tak ma(mp)u melupakanmu.
Aku hanya terlampau merindumu. Sungguh. Sangat.
take care you there, dear.
I love you, on my all-own way.
-Banjarmasin (kantor LPJKD Kalsel), 13 Juni 2012 10.27AM saat sedang mendengarkan Letters to none milik Bagustian -
2 Jun 2012
sebuah cerita yang diceritakan ulang kemudian ditulis ulang..
[namaku cinta ketika kita bersama….berbagi rasa untuk selamanya
namaku cinta ketika kita bersama… berbagi rasa sepanjang usia]
Ada “kenang” di dalam “kenangan”, mungkin karena itu aku selalu terkenang-kenang.
Tentang kamu. Tentang Kita.
Dengan mengenang dan merindukan kita.
Aku seperti menjatuhkan diri ke sebuah jurang yang belum tahu seberapa jauh dasarnya dan tidak ada kamu di bawah yang siap menolongku.
“Masih dan selalu..” Itulah jawaban kalau kamu bertanya apakah aku masih mengharapkan kita.
---------------------------------------------------------------------------------------------
I Gusti Oka. Tapi “Agung” begitu aku biasa memanggilnya. Nama kecilnya Agung. Itu semata-mata walaupun aku tidak ada di bagian saat itu aku ingin sekarang memiliki dia yang sepaket dengan masa lalunya. Cinta itu sederhana, juga bisa datang dengan cara yang sederhana.
Pada hati yang sudah siap, tentu saja.
Manusia terkadang lebih menyukai membicarakan masa lalu. Atau lebih memilih tinggal di masa lalu? Apa karena masa depan yang belum pasti dan kenyataan sekarang terlalu sakit untuk dijalani. Entahlah. Akupun begitu. Aku senang bermimpi. Karena hanya di sana aku masih memilikimu.
[hingga tiba saatnya aku pun melihat ….cintaku yang khianat, cintaku berkhianat
aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi… aku tenggelam dalam lautan luka dalam]
aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi… aku tenggelam dalam lautan luka dalam]
Namaku Putri Ayu Andini. Cukup panggil Andin.
Kalau kamu bertanya bagaimana aku bertemu dengan si Agung ini, itu sekitar dua tahun yang lalu di jejaring sosial. Dia menawarkan pertemanan. Dengan kondisi hati saat itu yang masih acak-acakan setelah putus dengan masa pacaran dua puluh empat bulan. Tidak ada rasa dan semua terlalu biasa.
Tapi lelaki ini gigih sekali. Merelakan tiga bulan pertama yang intens dengannya di dunia maya.
Dan akhirnya aku malah “terbiasa” dengan kehadirannya di hariku.
Memasukkan “chat via FB” ke dalam sarapan pagi. Atau sekedar sapa “hai” sebelum melanjutnya pekerjaan sehabis makan siang. Dan bertukar kabar kalau kami akan segera mengakhiri hari itu. Seperti lingkaran, tiga bulan pertama , mengawali dan mengakhiri hariku dengan dia yang ada di sana.
Sederhana bukan?
--------------------------------------------------
“Andin. Weekend ini kamu sibuk? Aku ingin bertemu langsung kalau kamu mengizinkan!”
Pesan di FB yang Agung tinggalkan saat aku lagi off line. Deg-deg-deg-deg!
Tapi aku membiarkan saja jemariku menuliskan balasan “ Iya. Aku mengizinkan kita bertemu!”
Sore itu. Kita mengenang kota Bali dengan kata yang sama “Bahagia”. Di keremangan yang sama kita berbagi cerita. Aku yang terbiasa menikmati “kata-katamu” melalui layar computer sekarang bisa menatapmu saat berbicara. Tidak muluk-muluk. Kita hanya membicarakan apa yang kita rasa.
Tidak banyak berharap hanya saja melafalkan doa yang sama semoga akan ada sore seperti ini lagi. Semoga.
Tidak perlu restoran yang mahal untuk bisa menikmati saat-saat menyenangkan bersama Agung.
Café di seberang Pura. Beberapa kali aku melihat Agung melepaskan pandangan jauh entah kemana. Seperti ada yang ingin dia utarakan.
Apa dan untuk siapa? Tidak terlalu banyak bertanya. Akupun menemaninya dalam diam. Tapi kami sungguh menikmati awal pertemuan ini.
Dengan tidak bermaksud berbohong, Agung belum bercerita tentang siapa dia, keluarganya dan “siapa Tuhan-nya”.
“Andin, aku anter kamu pulang ya. Kita jauhnya lima jam dari Rumah kamu”
Tapi sebelum beranjak dari tempat itu. Agung sempat berbisik yang membuat hatiku berlonjak.
“Andin, bisakah kamu kumiliki tidak hanya di dunia maya?”
“Maksud kamu?”
“Iya, aku ingin kita tidak lagi berjauhan. Tapi pergi ke tempat yang paling jauh dengan kamu sebagai yang terdekat. Will You?”
Lidahku kelu. Dan bibirku terlalu kaku. Ini terlalu cepat dan apakah aku bisa mengartikan ini sebagai ajakan yang serius?
Siapa kamu sebenarnya. Aku meraba-raba dalam ketidaktahuanku yang sialnya malah membuat aku takut dan memilih untuk menghindar.
Hatiku belum pulih tapi Agung semakin gigih.
Setelah kembali berjauhan. Lagi Agung mengutarakan hal yang sama via telp.
Aku masih dengan jawaban yang sama. Tidak mengiyakan hanya klise berkata “Kita jalani saja..”
Mulai sayang kemudian sayang-sayangan tanpa ada embel-embel “jadian”.
Agung lelaki yang teguh pada komitment. Aku bisa melihat ketika dia berkata tidaka ada yang namanya“Hubungan Tanpa Status”.
“Kita ini apa?”
“Kamu mikirnya apa?”
“Lebih dari teman A, tapi kamu tidak pernah mengakui Aku sebagai pacar”
“Jadi…?”
“Jadi.. kita ini harusnya sudah pacaran Andin”
“Oh. Yaudah..”
Sama-sama tertawa. Sama-sama bahagia karena punya rasa yang sama.
[aku tenggelam dalam lautan luka dalam.. aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang..aku tanpamu butiran debu]
“Pacar, weekend ini ketemu dong ya”
“As we wish. Can’t wait..”
[namaku cinta ketika kita bersama berbagi rasa untuk selamanya]
Time to wasting time. Saat bisa bersender di pundak Agung.
Saat Agung begitu dekat. Saat Agung hanya sejauh pelukan. Saat itu aku merasa tidak membutuhkan apa-apa lagi.
Tapi Agung selalu punya kejutan. Ketika kami mulai membuka diri. Bercerita tentang masa lalu dan bukan hanya tentang kami. Saat itulah kenyataan menunjukkan dia punya kuasa. Kami terlalu berbeda. Cinta yang seharusnya lagi manja-manjanya sempat khawatir ini akan berlabuh di mana?
Dengan dua nahkoda di kapal yang sama? Apa bisa? [ Bertahan sayang dengan doamu. Ku coba untuk bertanya pada Tuhanku]
Aku tidak pernah main-main soal Agamaku.
Tapi cintaku pada Agung juga tidak setengah-setengah. Lalu bagaimana?
Ketika Aku meminta untuk mengakhiri sebelum terlalu sakit.
Agung menjawab dengan pelukan yang erat. Sangat erat.
“Andin. Jangan takut. Kita akan menemukan jalan keluar untuk masalah ini.”
“Tenang Sayang. Cinta akan menemukan jalanya sendiri…”
[namaku cinta ketika kita bersama berbagi rasa untuk selamanya]
Agung mulai memasukkan aku ke bagian dari keluarganya.
“Andin aku serius sama kamu. Aku kenalin ke Bapak, ya?”
Mengenal Agung lebih lagi dari orang tuanya. Dan mulai tumbuh rasa sayang yang diakhiri banget. Sayang Agung!!
Setelahnya. Hanya hal-hal sederhana yang selalu kita lakukan atas nama cinta.
Ketemu dua kali sebulan. Membayar jarak yang sering kali tidak tahu aturan. Melewati malam-malam yang berharap ada keajaiban mempertemukan kita.
Sepasang kekasih yang saling memeluk erat dalam Doa, kepada Tuhan yang berbeda.
Kembali Agung tidak main-main dengan ucapannya.
“Andin, Aku tidak mencari pacar. Aku mencari calon istri. Maukah kamu?” ucapnya di bulan ke-lima!
…………………..
Hening yang sangat lama. Ada jeda keraguan di sana.
Bagaimana bisa? Kita tidak sedang di Belanda yang menghalalkan pernikahan beda agama.
“Kamu mau tahu kenapa aku berani melakukan ini semua?” “Weekend ini kamu tanya sendiri sama Bapak..”
Lagi lagi hubungan ini tidak hanya antara Aku dan Agung.
Bapak bercerita bagaiman Agung sudah sangat kenal dengan “Agamaku” dari kecil. Bagaimana Bapak membiarkan Agung dengan pilihannya.
Dan sekarang mendukung Agung memantapkan Aku yang mungkinjawaban dari yang dia cari selama ini. Bapak berjanji akan datang dari Bali ke Banjar untuk meminta Aku secara resmi kepada kedua orang tuaku.
Tuhan.. Apa ini mimpi?
Apakah aku terlalu bahagia sehingga melupakan luka yang (pasti) ada?
Tidak hanya dari segi fondasi Agung membuktikan keseriusannya. Juga dari segi materi dia mempersiapkan semuanya.
Pernikahan itu tidak murah, begitu katanya.
Dan dia menyerahkan kepadaku sebuah kunci rumah yang baru diangkat kredit.
Resmi. Aku menjadi wanita yang paling bahagia saat itu.
[hingga tiba saatnya aku pun melihat..cintaku yang khianat, cintaku berkhianat ooh
menepi menepilah menjauh…semua yang terjadi di antara kita ooh]
menepi menepilah menjauh…semua yang terjadi di antara kita ooh]
Nothing last forever. This time will pass too.
Seberapa kuat pun kami mempertahankan cinta ini dan menyakinkan kedua orang tuaku. Tetap saja ada pihak keluarga yang juga adalah bagian diantaranya. Ibu dan Ayahku sudah bisa menerima Agung asalkan dia sah menjadi Imamku ketika sholat nanti.
Tapi bagaimana dengan keluarga Agung? Bapak dan Ibu yang adalah pemuka adat di Bali?
Jeda waktu yang sangat menyakitkan. Terlalu besar harga yang harus kami bayar untuk menyatukan dua hal yang sangat berbeda.
Belakangan aku tahu. Bagaimana Bapak dipojokkan keluarga besarnya di Bali.
Mengatasnamakan pemuka Adat dan Agama leluhur.
Agama Hindu tidak mengenal adanya perkawinan beda agama.
Sebelum perkawinan harus dilakukan terlebih dahulu upacara keagamaan.
Apabila salah seorang calon mempelai tidak beragama Hindu, maka dia diwajibkan sebagai penganut agama Hindu, karena kalau calon mempelai yang bukan Hindu tidak disucikan terlebih dahulu dan kemudian dilaksanakan perkawinan…
Yang intinya mereka tidak menerima calon menantu yang bukan bagian dari mereka.
Kenapa harus “caraku yang bersujud” dan caramu “yang menyembah” dipersalahkan.
Bukankah cinta harusnya tanpa kenapa?
Tangan terbuka. Tangan tertutup. Tapi dikeduanya ada cinta.
Kita memang berbeda. Tapi bukan berarti kita tidak bahagia.
Persetan dengan semua aturan dan tanggapan orang lain.
Persetan dengan perbedaan ini. Aku hanya mau kita.
Aku ingin dinikahi olehmu. Bukan oleh Agamamu.
Agung… kenapa perbedaan ini terlalu rumit.
…………………………………………………….
[aku tenggelam dalam lautan luka dalam..
aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang..aku tanpamu butiran debu]
Agung yang kukenal lelaki paling manis dan sabar banyak berubah.
Aku menyadari ini sepenuhnya tentang kami. Lagi lagi aku tidak banyak bertanya, dan membiarkan saja kami semakin jauh dan jauh.
Tidak ada kabar dan tidak tahu harus mencari ke mana?
Atau membiarkan saja ini berlalu dan menganggap tidak pernah ada apa-apa?
Cinta itu kebutuhan yang harus diperjuangkan. Bukan hanya untuk satu kebersamaan tapi lebih untuk satu kepastian.
Waktu tidak akan menyelesaikan apa-apa. Beberapa kali aku mencoba menghubungi Bapak dan bertanya apa yang terjadi?
Yang sebenarnya aku sudah tahu jawabannya.
“Nak, cobalah bersikap dewasa. Ibunya Agung itu salah satu keluarga leluhur di desa ini. Agung menanggung beban yang berat untuk melanjutkan warisan keluargan dan itu bisa dia teruskan dengan pendamping yang beragama sama dengan leluhurnya.
Terlalu banyak yang harus kalian korbankan untuk yang kalian sebut Cinta…” wejangan Bapak di suatu malam.
Pelan menikam.
Kami belum juga bertemu. Tapi kami masih sama-sama mencari.
Aku tahu Agung waktu itu lagi dekat dengan seorang wanita. Entah untuk alasan apalagi.
Luka harus dibalur dengan luka. Hati yang patah harus disembuhkan dengan cinta?
Aku belum merelakan sepenuhnya. Aku harus menemukan Agung. Harus.
Suatu pertemuan yang direncanakan untuk perpisahan. Mungkin!
-------------------------------------------------------------------------------------
“Pak, besok saya ke Bali hendak ketemu Agung dan Bapak..”
[(aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi..aku tenggelam dalam lautan) dalam luka dalam
aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang…aku tanpamu butiran debu, aku tanpamu butiran debu…]
aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang…aku tanpamu butiran debu, aku tanpamu butiran debu…]
“Kenapa kamu menghilang?”
“Aku tidak ke mana-mana. Hanya, tanpamu aku tidak puya arah..”
“Kenapa kamu menghindar?”
“Karena aku terlalu cinta..”
“Kenapa mencari wanita lain?”
“Untuk kamu benci sama Aku. Mungkin dengan begitu ini tidak terlalu menyakitkan...”
“Kamu menyesal?”
“Tidak sama sekali. Hanya aku belum menemukan jawaban kenapa aku tidak bisa erbakti pada leluhur dengan caraku sendiri..”
“Dewamu tidak mengenal Tuhanku...”
“Tapi Aku mengenal kamu melebihi Aku tahu apa yang kuingini. Aku hanya ingin kita...”
“Kamu mau Bapak diusir dari dessa dan semua tentang keluarga kalian dianggap haram?”
“Aku sayang Bapak..”
“Aku tahu..”
..................................................................................................................................................
Pembicaraan kita yang tidak pernah benar-benar berakhir. Walaupun sekarang aku berbicara sendiri. Membayangkan Agung yang berada di suatu tempat. Bahagia. Aku masih mengingat genggaman tangan nyadi hari jadian kami bulan ke lima. Masih kuingat raut mukanya. Serius dengan mata yang tidak berkedip.
“Bli nyak ngomong ka adi kejep. Bli tresna adi”. Dan kujawab “Lengeh!!”
- Aku mau ngomong. Aku sayang kamu. | Bodoh!! -
Tertawa bareng sampai terpingkal-pingkal. Dan Agung menghadiahiku sebuah ciuman yang sangat lembut. Ciuman di bawah senja .
Moment-moment seperti itu yang membuat aku ingin kembali pada Agung. Memperbaiki di mana yang salah. Atau tidak pernah ada yang salah. Hanya saja waktu kami yang sudah tidak ada untuk bersama.
Setelah pertemuan terakhir dengan Agung. Aku menerima sebuah pesan singkat di HP-ku
“ I just wanna go home. The only place where I feel loved. Your heart. Where my home is.
Thank You so much for your love dear. No, It’s not saying good bye. .. take care you there.. “
---------------------------------------------------------------------------------
Love someone too much will kill you that much!!
- ditulis oleh Fredrica Natalia, seorang teman maya, sahabat, kakak di Batam.
Untuk saya, dan kenangan "kita". terimakasih, terimakasih, dan terimakasih. -
Langganan:
Komentar (Atom)






