[namaku cinta ketika kita bersama….berbagi rasa untuk selamanya
namaku cinta ketika kita bersama… berbagi rasa sepanjang usia]
Ada “kenang” di dalam “kenangan”, mungkin karena itu aku selalu terkenang-kenang.
Tentang kamu. Tentang Kita.
Dengan mengenang dan merindukan kita.
Aku seperti menjatuhkan diri ke sebuah jurang yang belum tahu seberapa jauh dasarnya dan tidak ada kamu di bawah yang siap menolongku.
“Masih dan selalu..” Itulah jawaban kalau kamu bertanya apakah aku masih mengharapkan kita.
---------------------------------------------------------------------------------------------
I Gusti Oka. Tapi “Agung” begitu aku biasa memanggilnya. Nama kecilnya Agung. Itu semata-mata walaupun aku tidak ada di bagian saat itu aku ingin sekarang memiliki dia yang sepaket dengan masa lalunya. Cinta itu sederhana, juga bisa datang dengan cara yang sederhana.
Pada hati yang sudah siap, tentu saja.
Manusia terkadang lebih menyukai membicarakan masa lalu. Atau lebih memilih tinggal di masa lalu? Apa karena masa depan yang belum pasti dan kenyataan sekarang terlalu sakit untuk dijalani. Entahlah. Akupun begitu. Aku senang bermimpi. Karena hanya di sana aku masih memilikimu.
[hingga tiba saatnya aku pun melihat ….cintaku yang khianat, cintaku berkhianat
aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi… aku tenggelam dalam lautan luka dalam]
aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi… aku tenggelam dalam lautan luka dalam]
Namaku Putri Ayu Andini. Cukup panggil Andin.
Kalau kamu bertanya bagaimana aku bertemu dengan si Agung ini, itu sekitar dua tahun yang lalu di jejaring sosial. Dia menawarkan pertemanan. Dengan kondisi hati saat itu yang masih acak-acakan setelah putus dengan masa pacaran dua puluh empat bulan. Tidak ada rasa dan semua terlalu biasa.
Tapi lelaki ini gigih sekali. Merelakan tiga bulan pertama yang intens dengannya di dunia maya.
Dan akhirnya aku malah “terbiasa” dengan kehadirannya di hariku.
Memasukkan “chat via FB” ke dalam sarapan pagi. Atau sekedar sapa “hai” sebelum melanjutnya pekerjaan sehabis makan siang. Dan bertukar kabar kalau kami akan segera mengakhiri hari itu. Seperti lingkaran, tiga bulan pertama , mengawali dan mengakhiri hariku dengan dia yang ada di sana.
Sederhana bukan?
--------------------------------------------------
“Andin. Weekend ini kamu sibuk? Aku ingin bertemu langsung kalau kamu mengizinkan!”
Pesan di FB yang Agung tinggalkan saat aku lagi off line. Deg-deg-deg-deg!
Tapi aku membiarkan saja jemariku menuliskan balasan “ Iya. Aku mengizinkan kita bertemu!”
Sore itu. Kita mengenang kota Bali dengan kata yang sama “Bahagia”. Di keremangan yang sama kita berbagi cerita. Aku yang terbiasa menikmati “kata-katamu” melalui layar computer sekarang bisa menatapmu saat berbicara. Tidak muluk-muluk. Kita hanya membicarakan apa yang kita rasa.
Tidak banyak berharap hanya saja melafalkan doa yang sama semoga akan ada sore seperti ini lagi. Semoga.
Tidak perlu restoran yang mahal untuk bisa menikmati saat-saat menyenangkan bersama Agung.
Café di seberang Pura. Beberapa kali aku melihat Agung melepaskan pandangan jauh entah kemana. Seperti ada yang ingin dia utarakan.
Apa dan untuk siapa? Tidak terlalu banyak bertanya. Akupun menemaninya dalam diam. Tapi kami sungguh menikmati awal pertemuan ini.
Dengan tidak bermaksud berbohong, Agung belum bercerita tentang siapa dia, keluarganya dan “siapa Tuhan-nya”.
“Andin, aku anter kamu pulang ya. Kita jauhnya lima jam dari Rumah kamu”
Tapi sebelum beranjak dari tempat itu. Agung sempat berbisik yang membuat hatiku berlonjak.
“Andin, bisakah kamu kumiliki tidak hanya di dunia maya?”
“Maksud kamu?”
“Iya, aku ingin kita tidak lagi berjauhan. Tapi pergi ke tempat yang paling jauh dengan kamu sebagai yang terdekat. Will You?”
Lidahku kelu. Dan bibirku terlalu kaku. Ini terlalu cepat dan apakah aku bisa mengartikan ini sebagai ajakan yang serius?
Siapa kamu sebenarnya. Aku meraba-raba dalam ketidaktahuanku yang sialnya malah membuat aku takut dan memilih untuk menghindar.
Hatiku belum pulih tapi Agung semakin gigih.
Setelah kembali berjauhan. Lagi Agung mengutarakan hal yang sama via telp.
Aku masih dengan jawaban yang sama. Tidak mengiyakan hanya klise berkata “Kita jalani saja..”
Mulai sayang kemudian sayang-sayangan tanpa ada embel-embel “jadian”.
Agung lelaki yang teguh pada komitment. Aku bisa melihat ketika dia berkata tidaka ada yang namanya“Hubungan Tanpa Status”.
“Kita ini apa?”
“Kamu mikirnya apa?”
“Lebih dari teman A, tapi kamu tidak pernah mengakui Aku sebagai pacar”
“Jadi…?”
“Jadi.. kita ini harusnya sudah pacaran Andin”
“Oh. Yaudah..”
Sama-sama tertawa. Sama-sama bahagia karena punya rasa yang sama.
[aku tenggelam dalam lautan luka dalam.. aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang..aku tanpamu butiran debu]
“Pacar, weekend ini ketemu dong ya”
“As we wish. Can’t wait..”
[namaku cinta ketika kita bersama berbagi rasa untuk selamanya]
Time to wasting time. Saat bisa bersender di pundak Agung.
Saat Agung begitu dekat. Saat Agung hanya sejauh pelukan. Saat itu aku merasa tidak membutuhkan apa-apa lagi.
Tapi Agung selalu punya kejutan. Ketika kami mulai membuka diri. Bercerita tentang masa lalu dan bukan hanya tentang kami. Saat itulah kenyataan menunjukkan dia punya kuasa. Kami terlalu berbeda. Cinta yang seharusnya lagi manja-manjanya sempat khawatir ini akan berlabuh di mana?
Dengan dua nahkoda di kapal yang sama? Apa bisa? [ Bertahan sayang dengan doamu. Ku coba untuk bertanya pada Tuhanku]
Aku tidak pernah main-main soal Agamaku.
Tapi cintaku pada Agung juga tidak setengah-setengah. Lalu bagaimana?
Ketika Aku meminta untuk mengakhiri sebelum terlalu sakit.
Agung menjawab dengan pelukan yang erat. Sangat erat.
“Andin. Jangan takut. Kita akan menemukan jalan keluar untuk masalah ini.”
“Tenang Sayang. Cinta akan menemukan jalanya sendiri…”
[namaku cinta ketika kita bersama berbagi rasa untuk selamanya]
Agung mulai memasukkan aku ke bagian dari keluarganya.
“Andin aku serius sama kamu. Aku kenalin ke Bapak, ya?”
Mengenal Agung lebih lagi dari orang tuanya. Dan mulai tumbuh rasa sayang yang diakhiri banget. Sayang Agung!!
Setelahnya. Hanya hal-hal sederhana yang selalu kita lakukan atas nama cinta.
Ketemu dua kali sebulan. Membayar jarak yang sering kali tidak tahu aturan. Melewati malam-malam yang berharap ada keajaiban mempertemukan kita.
Sepasang kekasih yang saling memeluk erat dalam Doa, kepada Tuhan yang berbeda.
Kembali Agung tidak main-main dengan ucapannya.
“Andin, Aku tidak mencari pacar. Aku mencari calon istri. Maukah kamu?” ucapnya di bulan ke-lima!
…………………..
Hening yang sangat lama. Ada jeda keraguan di sana.
Bagaimana bisa? Kita tidak sedang di Belanda yang menghalalkan pernikahan beda agama.
“Kamu mau tahu kenapa aku berani melakukan ini semua?” “Weekend ini kamu tanya sendiri sama Bapak..”
Lagi lagi hubungan ini tidak hanya antara Aku dan Agung.
Bapak bercerita bagaiman Agung sudah sangat kenal dengan “Agamaku” dari kecil. Bagaimana Bapak membiarkan Agung dengan pilihannya.
Dan sekarang mendukung Agung memantapkan Aku yang mungkinjawaban dari yang dia cari selama ini. Bapak berjanji akan datang dari Bali ke Banjar untuk meminta Aku secara resmi kepada kedua orang tuaku.
Tuhan.. Apa ini mimpi?
Apakah aku terlalu bahagia sehingga melupakan luka yang (pasti) ada?
Tidak hanya dari segi fondasi Agung membuktikan keseriusannya. Juga dari segi materi dia mempersiapkan semuanya.
Pernikahan itu tidak murah, begitu katanya.
Dan dia menyerahkan kepadaku sebuah kunci rumah yang baru diangkat kredit.
Resmi. Aku menjadi wanita yang paling bahagia saat itu.
[hingga tiba saatnya aku pun melihat..cintaku yang khianat, cintaku berkhianat ooh
menepi menepilah menjauh…semua yang terjadi di antara kita ooh]
menepi menepilah menjauh…semua yang terjadi di antara kita ooh]
Nothing last forever. This time will pass too.
Seberapa kuat pun kami mempertahankan cinta ini dan menyakinkan kedua orang tuaku. Tetap saja ada pihak keluarga yang juga adalah bagian diantaranya. Ibu dan Ayahku sudah bisa menerima Agung asalkan dia sah menjadi Imamku ketika sholat nanti.
Tapi bagaimana dengan keluarga Agung? Bapak dan Ibu yang adalah pemuka adat di Bali?
Jeda waktu yang sangat menyakitkan. Terlalu besar harga yang harus kami bayar untuk menyatukan dua hal yang sangat berbeda.
Belakangan aku tahu. Bagaimana Bapak dipojokkan keluarga besarnya di Bali.
Mengatasnamakan pemuka Adat dan Agama leluhur.
Agama Hindu tidak mengenal adanya perkawinan beda agama.
Sebelum perkawinan harus dilakukan terlebih dahulu upacara keagamaan.
Apabila salah seorang calon mempelai tidak beragama Hindu, maka dia diwajibkan sebagai penganut agama Hindu, karena kalau calon mempelai yang bukan Hindu tidak disucikan terlebih dahulu dan kemudian dilaksanakan perkawinan…
Yang intinya mereka tidak menerima calon menantu yang bukan bagian dari mereka.
Kenapa harus “caraku yang bersujud” dan caramu “yang menyembah” dipersalahkan.
Bukankah cinta harusnya tanpa kenapa?
Tangan terbuka. Tangan tertutup. Tapi dikeduanya ada cinta.
Kita memang berbeda. Tapi bukan berarti kita tidak bahagia.
Persetan dengan semua aturan dan tanggapan orang lain.
Persetan dengan perbedaan ini. Aku hanya mau kita.
Aku ingin dinikahi olehmu. Bukan oleh Agamamu.
Agung… kenapa perbedaan ini terlalu rumit.
…………………………………………………….
[aku tenggelam dalam lautan luka dalam..
aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang..aku tanpamu butiran debu]
Agung yang kukenal lelaki paling manis dan sabar banyak berubah.
Aku menyadari ini sepenuhnya tentang kami. Lagi lagi aku tidak banyak bertanya, dan membiarkan saja kami semakin jauh dan jauh.
Tidak ada kabar dan tidak tahu harus mencari ke mana?
Atau membiarkan saja ini berlalu dan menganggap tidak pernah ada apa-apa?
Cinta itu kebutuhan yang harus diperjuangkan. Bukan hanya untuk satu kebersamaan tapi lebih untuk satu kepastian.
Waktu tidak akan menyelesaikan apa-apa. Beberapa kali aku mencoba menghubungi Bapak dan bertanya apa yang terjadi?
Yang sebenarnya aku sudah tahu jawabannya.
“Nak, cobalah bersikap dewasa. Ibunya Agung itu salah satu keluarga leluhur di desa ini. Agung menanggung beban yang berat untuk melanjutkan warisan keluargan dan itu bisa dia teruskan dengan pendamping yang beragama sama dengan leluhurnya.
Terlalu banyak yang harus kalian korbankan untuk yang kalian sebut Cinta…” wejangan Bapak di suatu malam.
Pelan menikam.
Kami belum juga bertemu. Tapi kami masih sama-sama mencari.
Aku tahu Agung waktu itu lagi dekat dengan seorang wanita. Entah untuk alasan apalagi.
Luka harus dibalur dengan luka. Hati yang patah harus disembuhkan dengan cinta?
Aku belum merelakan sepenuhnya. Aku harus menemukan Agung. Harus.
Suatu pertemuan yang direncanakan untuk perpisahan. Mungkin!
-------------------------------------------------------------------------------------
“Pak, besok saya ke Bali hendak ketemu Agung dan Bapak..”
[(aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi..aku tenggelam dalam lautan) dalam luka dalam
aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang…aku tanpamu butiran debu, aku tanpamu butiran debu…]
aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang…aku tanpamu butiran debu, aku tanpamu butiran debu…]
“Kenapa kamu menghilang?”
“Aku tidak ke mana-mana. Hanya, tanpamu aku tidak puya arah..”
“Kenapa kamu menghindar?”
“Karena aku terlalu cinta..”
“Kenapa mencari wanita lain?”
“Untuk kamu benci sama Aku. Mungkin dengan begitu ini tidak terlalu menyakitkan...”
“Kamu menyesal?”
“Tidak sama sekali. Hanya aku belum menemukan jawaban kenapa aku tidak bisa erbakti pada leluhur dengan caraku sendiri..”
“Dewamu tidak mengenal Tuhanku...”
“Tapi Aku mengenal kamu melebihi Aku tahu apa yang kuingini. Aku hanya ingin kita...”
“Kamu mau Bapak diusir dari dessa dan semua tentang keluarga kalian dianggap haram?”
“Aku sayang Bapak..”
“Aku tahu..”
..................................................................................................................................................
Pembicaraan kita yang tidak pernah benar-benar berakhir. Walaupun sekarang aku berbicara sendiri. Membayangkan Agung yang berada di suatu tempat. Bahagia. Aku masih mengingat genggaman tangan nyadi hari jadian kami bulan ke lima. Masih kuingat raut mukanya. Serius dengan mata yang tidak berkedip.
“Bli nyak ngomong ka adi kejep. Bli tresna adi”. Dan kujawab “Lengeh!!”
- Aku mau ngomong. Aku sayang kamu. | Bodoh!! -
Tertawa bareng sampai terpingkal-pingkal. Dan Agung menghadiahiku sebuah ciuman yang sangat lembut. Ciuman di bawah senja .
Moment-moment seperti itu yang membuat aku ingin kembali pada Agung. Memperbaiki di mana yang salah. Atau tidak pernah ada yang salah. Hanya saja waktu kami yang sudah tidak ada untuk bersama.
Setelah pertemuan terakhir dengan Agung. Aku menerima sebuah pesan singkat di HP-ku
“ I just wanna go home. The only place where I feel loved. Your heart. Where my home is.
Thank You so much for your love dear. No, It’s not saying good bye. .. take care you there.. “
---------------------------------------------------------------------------------
Love someone too much will kill you that much!!
- ditulis oleh Fredrica Natalia, seorang teman maya, sahabat, kakak di Batam.
Untuk saya, dan kenangan "kita". terimakasih, terimakasih, dan terimakasih. -


Tidak ada komentar:
Posting Komentar