Jakarta..
Ibu dari semua kota; yang paling jumawa dengan kemegahannya. Tak pernah terpikir sebelumnya, akan menambatkan cinta milikku yang sangat sederhana di sana.
Ternyata..
Oleh salah satu anaknya, hatiku terbawa. Bukan, bukan terbawa. Baiklah, kuralat. Mungkin bukan terbawa tapi aku yang mengikutinya. Dia yang bahkan tak kutemui rupanya, dia yang belum tergenggam jemarinya. Aku dan dia hanya dikenalkan oleh semesta lewat linimasa.
Katakanlah aku yang terlalu mudah jatuh cinta.
Kamu..
Kamu merangkai ratusan aksara menjadi balon-balon udara, lalu menyimpul mereka erat, sambil berlari, cepat sekali. Lalu perlahan melayang, terbang. Sendirian.
Kamu yang sedang di langit jakarta mungkin juga terlalu asik berimajinasi, hingga melupakan gravitasi.
Kamu mungkin lupa, ada sepasang kaki yang masih berpijak di tanah memapah harap yang patah, ada tubuh yang mulai lelah, lalu rebah. Kepayahan bahkan sebelum sampai di tujuan.
Jadi, jika bukan aku yang mau kau temui setiap kali bermimpi,
jika bukan ada-ku yang kau ingini;
Aku tak punya banyak mau, tapi jika boleh meminta, turunlah sebentar saja. Beritahu aku, bahwa kota ini; —dan hatimu tak akan pernah termenangkan olehku.
1 komentar:
pasti buat bang Tody hahaahhahah
Posting Komentar