19 Des 2012

denyut paling nyeri...



Saat punggungmu tak lagi terjangkau pandangan,
saat itu pula jarum jam berubah menjadi belati.
Tiap detiknya menghunjam jantungku yang mendetakkan rindu paling pilu;
—berkali-kali.
Kukira setelah jumpa, rindu akan menjadi baik-baik saja.
Ternyata aku salah, jarak inipun bersalah.
Satu yang benar; —ketidakpastian.
Ketidakpastian akan kepulangan berikutnya.
Tapi aku masih belum jera,
memaksa bayangmu keluar dari persembunyiannya,
menjadikanmu nyata walau hanya di kepala.
Lalu aku menjadi seperti gadis gila,
berbicara, bercerita dan tertawa pada siluetmu yang beku.
Seketika nadi berdenyut nyeri,
mengalirkan bulir-bulir bening yang jatuh dari sudut mata, menelusuri pipi.
Menetes pada luka menganga di ulu hati.
Aku. Kalah. Sekali lagi.

Tidak ada komentar: