~ ku harus pergi meninggalkan kamu yang telah hancurkan aku. Sakitnya, sakitnya, oh sakitnya.. ~
Dari jejaring sosial, kami saling kenal dan dari situs pertemanan ini juga telah menjadikan ”kisah yang bercerita” Kisah di mana kehancuranku di mulai. Cerita yang tak perlu bercerita panjang lebar, karena hanya deretan album foto mereka sudah cukup berkuasa menghempas harapanku. Kesakitan dan kepedihan yang kuterima di lima belas bulan, yang hanya kurasakan manisnya dalam enam bulan pertama terjawab sudah. Tak hanya patah, saat ini telah pecah, menjadi keping luka juga duka.
---
Maret 2011
Cinta itu sungguh-sungguh sesukanya. Dia tak pernah memilih kapan dan kepada siapa akan menjatuhkan bahagia juga lukanya. Bersiaplah untuk merasakan kehadiran dan kepergiannya. Maka, kau tak akan mampu menolaknya.
Namaku Melisa Lindya, lebih akrab dipanggil Linda. Aku mahasiswi akademi keperawatan berusia 22 tahun yang sedang sibuk-sibuknya merampungkan tugas akhir. Demi sebuah impian yang memang sudah aku cita-citakan, aku bertekad untuk fokus pada kuliah. Dan secara kebetulan saat itu aku masih berstatus single. Single happy, begitulah aku menjuluki diriku sendiri.
Untuk mengusir kejenuhanku yang bisa menyerang kapan saja, aku memilih dunia maya sebagai salah satu penghibur diri. Dengan akun facebook yang kumiliki, aku bisa berteman dengan siapa saja. Mulai dari saling sapa di wall to wall sampai berkelakar di bilik obrolan. Hanya sebatas itu saja, aku hanya bisa masuk ke dunia maya saat hari-hariku sudah begitu jengah dengan kehidupan nyata.
Sore itu, salah satu akun yang sebenarnya sudah sering kulihat di halaman beranda facebook-ku menyapaku di bilik obrolan, karena memang sudah lama akun tersebut ada di daftar pertemananku. Sama seperti lainnya, basa-basi yang sudah basi. Hanya saja, kali ini berakhir pada bertukarnya nomor telepon selular. Dia memperkenalkan diri, namanya, Rivani Farid.
”Aku ingin mengenalmu lebih dari dunia maya." Sebaris kata yang mampu membuatku rela memberikan nomor ponselku.
Riri, panggilan yang kulontarkan sekenanya, karena malas bertanya nama panggilannya. Dan dia terima saja.
”Kamu tau kita sekota? ”
”ya?”
”Tau tempat tinggal kita jauhnya tak lebih dari satu kilometer?”
”ya, lalu?”
"Jadi gak keberatan dong kalau sore ini aku ngajak kamu ketemu? Ya siapa tau aja stress kamu sama tugas akhir itu bisa hilang setelah liat mukaku yang lucu"
Berbalas Pesan singkat di tengah jam kuliah siang itu, dan lagi-lagi kujawab sekenanya, tanpa pikir panjang.
"Dasar! :D
"Oke, atur aja. Aku selesai jam 5 dan langsung ke taman kota, ya? Nanti kukabarin lagi"
Di awal perjumpaan, tidak ada yang terlalu menarik, tak banyak kesan, hanya chit-chat yang over all menyenangkan.
Setelah pertemuan itu, Rajin sekali dia mengirimkan pesan-pesan singkat, yang bisa membuatku tersenyum tersipu malu. Hanya saja otak warasku masih bisa mengingat prioritasku saat itu. Kuliah, kuliah dan kuliah. Maka kuanggap angin lalu saja semua rayuan hingga perhatiannya.
---
Perjumpaan berikutnya, seperti biasa sedang berbalas pesan. Dia bilang lelah dan ingin pulang tapi tak ada kendaraan. Kendaraannya sedang dipinjam seorang teman yang tak tahu kapan akan dikembalikan. Di luar, langit mendung, tak ada yang sedang kukerjakan. Kemudian aku mengambil inisiatif yang entah darimana datangnya dan belakangan kupikir adalah awal dari kebodohan.
”Mau kujemput? Lagi bengong nih, lagian nanti keburu ujan malah gak bisa pulang.”
”Eh beneran? Dengan senang hati dan riang gembira jika kamu gak keberatan. Makasih, manis.”
”Lelakilebay! :p”
Duapuluh menit berikutnya, kami sudah berboncengan dengan motorku menuju rumahnya. Aku bisa merasakan dia sengaja memperlambat laju kendaraan, padahal saat itu jalanan sedang lengang. Cerita tentang keluarganya begitu saja terlontar dan kudengarkan dari belakang boncengannya. Dari kantornya yang jauhnya sekitar tigapuluhlima menit ke rumahnya.
”Nanti sampai rumah gak boleh langsung pulang, ya? Mau aku kenalin ke Ummi. Siapa tau kalian cocok dan kamu bisa jadi teman ummiku, gitu. Beliau tinggal sendiri di rumah. Pasti senang kubawain mbak perawat cantik.”
Belum begitu sampai di rumahnya, hujan turun dengan derasnya. Seolah ingin mengulur waktu agar aku bisa berlama-lama di rumahnya. Ngobrol dengan ummi yang senyumnya teduh tak jauh seperti ibuku. Dan terlihat masih cantik untuk seusia beliau.
Di luar masih gerimis kecil dan udara lumayan dingin. Tapi hari, sudah menjelang malam dan aku harus pulang.
”Hati-hati ya, cantik, terimakasih sudah menemani ummi. Ummi senang dengan kehadiran kamu, dan setelah ini kamu harus sering-sering main ke sini.”
Deg! Aku merasa tersanjung. Belum pernah ada lelaki yang mengenalkan dengan ibunya di awal perkenalan, dan baru dia yang seperti itu. Seketika wajahku merah merona, ada rasa bangga dan malu yang tak bisa kusembunyikan di hadapannya. Dia memaksaku pulang memakai jaketnya walaupun agak kebesaran dan baru saja dipakainya tadi.
”Di luar dingin, kalau mbak perawat masuk angin, gimana? Kan gak lucu. Udah pake aja gak usah bandel deh!”
Begitu kuat aroma tubuh maskulin dari jaketnya, membalut setengah tubuhku. Hangat yang tidak biasanya. Ya, aku jatuh cinta. Sepertinya.
---
Selalu ada yang berikutnya dari sebuah pertama
Dari pertemuan pertama, ke pertemuan berikutnya yang semakin sering, kujalani begitu saja tanpa mencari tahu dan memilih untuk tidak terlalu memikirkan akan kemana dan seperti apa hubungan ini selanjutnya. Yang aku tahu, aku begitu menikmati setiap waktu yang kulalui bersamanya.
Bila memang aku dan dia sama-sama bahagia tanpa adanya satu ikatan, tak ada masalah bukan? Tidak ada yang inginaku ubah dari hubungan ini. I don’t really need to look very much further, I’ll never ask him for to much.
Dan hari ini, 5 April 2011 di cafe yang awalnya kukira pertemuan seperti biasa, ternyata berubah menjadi makan malam romantis yang sengaja dia siapkan. Tak ada mawar merah, atau lilin. Aku menyebutnya romantis karena ada dia di depanku dengan senyum yang tidak seperti biasanya dan dari pengeras suara yang terpasang di sudut langit-langit cafe ini, sayup terdengar lagu-lagu romantis.
”Gak perlu berlama-lama untuk menyadari aku sayang kamu, Linda. Aku menginginkan kita mendekatkan hati yang memang kurasa sudah dekat lebih dari ini. Aku Rivani farid ingin menjadi pelindung dan sandaranmu.”
”Tapi ini terlalu cepat” hanya kalimat itu yang bisa keluar dari mulutku dengan tampang bodoh, malu, salah tingkah, bahagia dan tertunduk malu.
”Ya, I know it’s too fast. Tapi aku gak tergesa-gesa. Aku memperhatikanmu dari awal pertemuan kita. Aku nyaman denganmu dan hatiku sudah memilih.
"Please hold my hand, look at my deepest eyes, and tell me. Will you, Melisa Lindya?”
Aku tak pernah melihatnya berbicara dengan mimik seserius itu sebelumnya. Bahkan menatap berlama-lama saat dia bicara pun rasanya aku tak sanggup.
”Iya, we shared the same feeling, Ri. I definitely in love with you. Aku juga menginginkan kita lebih dekat dari ini” yang sayangnya hanya bisa kuucapkan dalam hati.
Dalam genggaman tangannya, aku mengangguk dan mengiyakan apa yang dia katakan. Anggukan yang belakangan pula baru kusadari menjadi awal dari segala cintaku yang benar-benar tunduk.
Tak banyak kata yang terucap setelah itu. Tapi aku tahu, hatiku melafalkan doa dalam bahagia yang tak terhingga. Aku sekarang dimilikinya. I’m officially Rivani Farid’s, He is officially being my beloved.
Awal yang indah.
Usia berpacaran yang masih sangat baru, tapi sikapnya sudah semakin menunjukkan keseriusannya. Membawa diri masuk ke dalam hidupku dan sekitarku, dan membawaku semakin jauh mengenal orang-orang terdekatnya. Seolah ingin semua orang yang mengenalnya tahu bahwa sekarang ada aku yang bersamanya. Keluarganya, teman-temannya seperti merentangkan tangannya lebar-lebar untukku. Meyakinkanku bahwa aku sudah menjadi bagian dari mereka. Aku merasa sangat diterima dan semakin nyaman dengannya.
Seminggu, sebulan, seratus duapuluh hari pertama, masa di mana berpacaran sedang lucu-lucunya dan sedang mesra-mesranya. Tak terhitung menyisipkan ”I love you” sebagai pengantar memulai hari, pembunuh bosan di sela kesibukan. Pertemuan yang setiap hari, untuk sekadar makan siang bersama, atau mengantar pulang, masih saja tak cukup. Membunuh jarak yang hanya satu-tiga kilometer dengan pesan singkat dan telepon selama tak terjangkau oleh pandangan satu sama lain. Rindu selalu merangkul bahkan ketika kami hanya berjarak satu pelukan.
Sesederhana itu. Aku mencintainya. Sangat, dan semakin mencintainya.
---
~Aku tak mengerti cinta indahnya hanya di awal kurasa. Mengapa kau benar, dan aku selalu salah~
Bulan ke-lima, hubungan kami mulai memasuki konflik. Perseturuan yang sebenarnya bisa dengan mudah direda. Dari cemburu hingga perbedaan pendapat. Tapi intensitas perselisihan yang semakin sering tanpa sebab yang jelas, dia menjadi sangat mudah marah, sedikit saja ada kata yang salah, selalu akan berujung pada masalah.
Aku tidak begitu ingat awal mula masalah ini, karena memang aku berusaha untuk tidak mengingat bagian yang tidak indah. Berkali kali, hingga sering kali dia menguji kesabaranku. Dengan hal sepele yang membuat hubungan kami semakin runyam.
Sedinginnya kota ini lebih menakutkan jika kamu yang mulai membeku.
Berkabar melalui pesan singkat dan telepon tak sesering dulu. Hingga akhirnya ponselku tak lagi berbunyi membawa kabar darinya jika bukan aku yang memulai bertanya. Itupun dengan jawaban seadanya.
Waktu untuk bertemu yang dulu begitu sering, sekarang sudah tidak terjadi lagi, jangankan setiap hari, sekali seminggupun tidak mesti. Pekerjaan selalu dijadikan alasan utama. Ditambah lagi dengan hobi baru (yang katanya) memelihara burung berkicau, seolah menenggelamkan diri dalam hobinya untuk sengaja menghindar dariku.
Seperti membangun tembok pembatas, sekadar untuk mengintip hari-harinya pun aku tak kuasa. Setiap kali mengajak bertemu, memintanya ke rumah atau meminta izin ke rumahnya, selalu dibatalkan dengan bermacam alasan. Dan setelahnya, bisa aku pastikan, dia hanya bisa terdiam. Selalu ada jeda yang membuatku jengah.
---
September 2011
Akhirnya, aku menjemput hari ini. Hari dimana jenjang diplomatiga-ku selesai, dan aku resmi menjadi Ahli Madya Keperawatan. Masa dimana pintu masuk menuju cita-citaku telah terbuka. Kebahagian terbesarku adalah saat orangtua ada di sampingku dengan senyum bangga.Tapi sungguh dalam hatiku, kebahagiaan ini tak sempurna, terasa tidak lengkap. Dia tak datang di hari ini.
Untuk kesekian kali, aku menghardik egoku sendiri. Marah pada pikiran yang tidak baik tentangnya. Memaksa batinku untuk mengerti ketidak-adaannya. Dan meyakinkan bahwa pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan, adalah satu-satunya alasan dia yang paling benar.
---
Oktober 2011
Dengan hubungan yang semakin dingin dan tak mau larut dalam fresh graduate Euforia, aku mulai menyibukkan diri dengan menyebar lamaran pekerjaan. Aku sadar, ada keluarga yang menantiku di balik langkah yang aku ambil selanjutnya. Aku tidak bisa dibilang perawat jika aku tidak bekerja benar-benar menjadi perawat.
Sesekali menelpon bercerita tentang semangatku.
”Cari kerja di sini aja. Aku tak akan bertahan dalam jarak”
Responnya yang kemudian diikuti dengan hilang. Sebenarnya akan lebih menyenangkan jika saja kalimatnya seperti ini; ”kamu kerjanya di sini aja ya, aku gak bisa jauh-jauh dari kamu”. Tapi aku cukup sadar diri, aku tak boleh banyak punya mau di keadaan yang seperti ini. Mungkin saja itu caranya mengungkapkan keinginan untuk selalu berdekatan denganku.
Aku selalu mampu menjadi pemenang dalam debat dengan egoku sendiri.
Aku selalu mampu menjadi pemenang dalam debat dengan egoku sendiri.
Di daerahku saat itu mungkin sedang tidak butuh tenaga medis karena, memang hanya ada satu rumah sakit dengan tenaga medis yang cukup. Bukannya aku tidak berusaha, aku sudah mencoba mendatangi rumah sakit hingga klinik, jawabannya sama. Mereka tak sedang membutuhkan pekerja.
---
November 2011
Aku tahu, tak mungkin aku berhenti. Diri yang semakin dipaksa untuk terbiasa dengan tiadanya. Ketika mendengar kabar bahwa salah satu rumah sakit di kota sebelah sedang membutuhkan tenaga medis, tak banyak lagi yang kupikirkan saat itu. Bergegas aku ikuti serangkaian tes dan tidak ada kesulitan berarti. Dengan mudah aku masuk kriteria yang mereka cari. Jarak satu setengah jam dari tempat tinggal tidak menyurutkan semangatku. Semangat yang susah payah kuciptakan sendiri, sama sekali tak ada campur tangannya saat itu.
Hari pertama bekerja. Berseragam putih polos dan dengan rasa percaya diri, aku begitu bangga memakainya. Pergi dari rumah dengan restu orang tua. Cukup sekali untuk memulai hari baruku. Aku bahkan belum memberitahu dirinya tentang semua ini. Aku pikir dia merasa tak butuh tahu hidupku saat ini.
”Aku sudah bilang, aku tak akan bertahan dengan jarak. Selamat untuk pekerjaan barumu, dan selamat menikmati kebebasanmu dari aku. Selamat bersenang-senang tanpa aku. Kita selesai.”
Pesan singkat yang kuterima di hari ketiga aku bekerja. Baru sempat ku baca sesaat selepas dinas. Tuduhan yang paling menyakitkan untukku. Tak banyak yang kulakukan. Aku berontak dalam diam. Masih menjadi tanda tanya, di mana letak kesalahanku padanya, hingga akhirnya dengan tega dia mengirimkan pesan singkat seperti itu, begitu menyesakkan. Aku hanya mampu menangis hebat di sepanjang perjalanan pulang. Sebab aku, terlalu takut untuk membela diri sendiri.
Hari berikutnya, aku memutuskan untuk menyibukan diri dengan pekerjaanku. Memilih mengambil lembur untuk sekadar melupakanmu walau hanya sepejam waktu. Mungkin, dengan begitu, ketika sampai di rumah, aku tak perlu berlama-lama untuk tertidur pulas, danaku harap, ini bisa terjadi setiap hari.
---
Desember 2011
Kau masuk tanpa mengetuk, memutar anak kunci tanpa permisi. Tamu yang berlagak seperti tuan. Datang kemudian pergi tanpa minta diri lalu kembali tanpa janji.
Ya, seperti itulah dia. Yang seminggu kemudian kehadirannya diwakili oleh pesan singkat seperti tak terjadi apa-apa sebelumnya.
”Apa kabar, kamu? Aku kangen. Kau tau aku tak bisa jauh darimu”
Celakanya, begitu saja kubukakan pintu untuknya. Tak bisa kupungkiri, aku begitu merindukannya. Maka, ketika dia datang, kembali lengan hatiku terbentang untuk memeluk cintanya lagi. Cinta, mendidikku menjadi seorang pemaaf. Atau, cintaku yang memang benar-benar pemaaf? Ataukah sebenarnya, tidak ada yang perlu dimaafkan, karena tak ada yang salah dalam hubungan ini?
Hubungan kami berjalan dengan langkah yang baru. Tidak ada pertemuan, tidak ada jalan beriringan, pun makan malam bersama seperti dulu. Berjam-jam pelukan dia berhutang padaku, seminggu tanpa kabar, kemudian hanya sehari berbalas dengan kalimat mesra. Seperti itu seterusnya. Seingatku saat itu aku tak tahu apa yang sedang aku jalani, tapi, kuterima saja, bisaku hanya berontak dalam diam.
Cintaku sedang diuji, terlalu sakit untuk bertahan, juga terlampau sulit untuk melepaskan.
---
April 2012
Yang lebih pedih dari airmata adalah; malam yang dikecup kesunyian dan rindu yang dipeluk kesendirian.
Hari ini seharusnya milik kami, hariku berdua dengannya. Aku sedang merayakan hari jadi setahun hubungan cinta ini, seorang sendiri. Dalam ketiadaanya, tanpa dia tahu, tak banyak yang kumau. Hanya melafalkan doa-doa yang kuharap dipanjatkan juga olehnya. Melewati ujian ini, tak banyak yang kupinta. Satu kebahagiaan untuknya dan memohon Riri-ku kembali seperti dulu.
---
Mei 2012
Jika cinta sudah memilih ke mana ia akan jatuh, maka. baik-buruk bahkan salah-benar pun terasa begitu samar.
”Lin, coba sms pacarmu deh. Aku barusan liat dia boncengan sama perempuan” pesan dari seorang teman lewat blackberry messenger.
”Linda sayang, Riri punya bb ya? Aku liat profil bbmnya di bb teman, display picturenya perempuan, tapi bukan foto kamu.” Ini pesan singkat dari teman yang lain.
“Dia gak punya bbm profile karena dia bukan bb user. Bukan dia kali.”
“Kamu percaya aku atau percaya orang-orang itu, terserah padamu.” Jawaban Riri ketika aku bertanya. dengan rasa takut dan berhati-hati sekali.
Tidak. Mereka salah. Pasti salah lihat. Yang mereka lihat bukan Riri-ku, pasti hanya mirip.
Riri hatinya masih milikku, dia menjauh bukan untuk berkhianat. Dia tak akan meludahi janjinya sendiri.
Aku sudah hebat bukan untuk urusan meyakinkan diriku sendiri?
---
Juni 2012
Mungkin awal dari segala kesedihan adalah keingintahuan, namun, dengan segala ketidak-siapan akan jawabannya.
“Linda, please, kali ini dengar aku. Aku tak ingin kamu sakit, tapi kali ini kamu harus lihat. Untuk kamu dan cintamu.” ini pesan dari sahabatku.
”Ada apa? Kenapa dengan cintaku?”
“Aku liat akun facebook perempuan yang penuh dengan foto mesra kekasihmu dengan perempuan itu. Melda Mel Mel. Buka, sekarang”
Lidahku terasa kelu, jariku seketika kaku, hatiku? Tak beku, namun berdarah. Foto mesra paling menjijikkan yang pernah aku lihat sepanjang hidup. Aku tahu perempuan itu, wajahnya sudah tidak asing buatku. Aku, dia, dan Riri tinggal di kota yang sama, hanya saja aku tidak pernah mengenalnya. Riri juga belum pernah memperkenalkan perempuan itu sebagai temannya.
Tapi aku lebih kenal dengan lelaki yang bersamanya di foto itu. Saling menempelkan pipi dengan senyum mengembang, saling menggenggam dengan lingkar cincin di jarimanis mereka. selayaknya sepasang kekasih, sangat mesra. Hanya saja, lelaki di foto itu adalah kekasihku, Riri-ku. Foto itu diunggah pada bulan Desember 2011. Setengah tahun dalam limabelas bulan dilalui Riri dengan penghianatan.
Hujan membasahi sudut mataku dalam sekejap, tumpah, tanpa bisa kutahan derasnya, tak habis-habis, meski sudah terbuang sepanjang malam itu. Sayangnya, di luar sedang tidak turun hujan. Maka, tak ada pula yang bisa menyamarkan bulir airmata di pipiku.
---
Mimpi tak selalu bersanding indah dengan kenyataan dan terlalu dalam cinta adalah petaka.
Teringat status facebook terakhir si jalang; ”Tak baik terlalu mempertahankan sesuatu yang sebetulnya tak pernah benar-benar kau miliki.”
”Hai, Melda. Kenalkan namaku Linda. Melisa Lindya. Nama kita hampir mirip, ya? Kita sama-sama perempuan dan sama-sama pacarnya Riri.”
“Dia serius sama aku. Hanya belum menemukan waktu yang tepat melepas tanpa menyakitimu. Dia memberiku cincin”
“Aku juga punya cincin darinya”
“Tapi dia tak menyimpan apapun dariku”
“Itu beruntungnya kamu (yang masih) pacarnya , Rivani Farid (Riri-ku) tak menyimpan satupun rahasia darimu. Sebentar, itu keberuntungan ya, menurutmu? Dengan sadar menjalin kasih dengan kekasihku. Jadi kau ingin disebut apa selain jalang?”
”hbwqidfy36d904ur01kld[c3mksxy”
Makian yang memuaskan.
Setidaknya berbicara sendiri pada pasangan kekasihku menjadi unggul dalam berkhianat sudah terpenuhi. Tak peduli ada-tidaknya rasa bersalah atau bahkan terluka. Tak peduli bahwa bila di sini, hanya aku yang hancur.
---
Akhir adalah ketika tak ada lagi cinta untuknya. Maka, ku pasrahkan bahwa perpisahan ini tak pernah benar-benar usai.
”Maaf untuk kesakitanmu. Tak pernah ku niati membalas cintamu dengan dusta. Aku hanya jenuh, namun tak ingin kehilangan. Dia hanya persinggahan, dan ke hatimu aku akan pulang.”
”Pernah kau sengaja mengajakku memakai baju berwarna senada saat kita bertemu? Pernah kau mengijinkanku memperlihatkan cincin yang kau bilang lambang cinta dan hanya boleh dinikmati oleh kita berdua? Cincin ini ternyata bukan sepasang, Rivani Farid. Cincin ini dua. Kau tau apa bedanya sepasang dan dua?”
”Maaf”
”Tak perlu minta maaf. Tak ada yang salah dengan cinta. Cintamu kepadanya sekalipun. Berdiri congkak di atas dusta.”
”Aku akan selesai dengannya”
”Juga denganku”
”Aku tau kamu masih mencintaiku”
”Cerita kita yang akan selesai. Aku tidak sedang membicarakan cintaku”
Dia terlihat tak lebih mulia dari seorang bajingan yang mengaku tak suka wanita jalang.
Tapi seperti yang kubilang, aku punya cinta yang luar bisa pemaaf.
Seluruh identitas jejaring sosialku yang terselip namanya tak kurubah. Namanya di daftar kontak ponselku-pun ku biarkan begitu saja seperti sebelumnya. Gambar tampilan perpesanan berryhitamku masih foto berdua yang terakhir kami abadikan. Di wallpaper ponselku, aku masih kekasihnya.
”Jika hanya sebuah maaf, percayalah, lebih dari itupun sanggup kuberi. Sekali ini saja, aku sungguh ingin diperjuangkan. Bukan hanya di depan kita berdua, tapi di hadapan wanitamu yang kau pilih masuk dalam bagian cerita kita”
Kalimat terakhir tadi, (masih) tersimpan di folder draft fitur pesan di ponselku.
Kubiarkan ”tertidur” saja dulu, karena aku belum siap dengan kesakitan selanjutnya.
Banjarmasin, 16 Juni 2012
(Ditulis sepanjang pukul duabelas siang hingga pukul duabelas berikutnya ketika malam.)
Untuk teman di ujung bentangan jarak, yang belum diberi restu oleh waktu untuk bertemu @melindarie
Diedit oleh Tody Pramantha
annisAYUs

2 komentar:
Terharu sekali...SEMANGAT Lin!!!!
hhee nanti disampaikan sama Linda, ya.. Dia teman baikku, ini nulis pinjam ceritanya buat dia :)
Posting Komentar