seperti ini, sepertinya.
“Aku seringkali meragu pada perasaan sendiri. Tentang rasa macam apa yang punya untukmu. Benar bernama cinta, atau terpaksa. Lalu aku bertanya pada dua mata di depan cermin, tak sedikitpun kutemukan jawaban tentang keterpaksaan. Yang kudapat hanya dua pesan; —jika belum bertemu dengan cara memperjuangkan, satu-satunya yang harus kulakukan adalah bertahan.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar