28 Sep 2012

Surat untuk senja

sumber foto : favim.com
Apa kabar, senja?
Bagaimana dengan jingga?
Masihkah kalian saling setia melukis rona— mengukir kenangan untuk pasangan-pasangan yang hatinya sudah siap (kembali) terluka?
Maafkan jika sekarang aku jadi jarang menyapa. Sebab di sana, sudah ada hati yang harus kujaga. Di seberang sana, ada yang rindunya harus kupelihara agar selalu nyaman pada tempatnya.
Saat ini kekasihku sedang enggan bicara padaku. Disebutnya ini jeda. Bukan, bukan ingin menjadikanmu sebagai pelarian jengah. Jangan dulu kau marah.
Kau masih ingat tentang aku punya luka?
Ya, rasa yang setia kubagi denganmu setiap kau baru tiba. Rasa yang pelihara sejak lama. Sepertinya sudah memasuki masa kadaluarsa. Jadi sudah bolehkah kupercayakan padamu untuk merawatnya?
Tak kuniati untuk lupa, nanti sewaktu-waktu akan kujenguk— bila aku mulai sulit mensyukuri tawa.
Karena dia; kekasihku, menawarkan jalan pulang menuju bahagia. Biar kuberitahu, dia pujangga penyuka malam, namun mampu menyibak kelam, menjauhkanku dari muram.
Dia tak datang bersama pagi, sebab dia yang kesayangan ini, sudah terbiasa kesiangan. Tapi percayalah, dia mampu memberi hangat sepanjang hari.
Deretan aksara yang terlahir dari hentakan jarinya bahkan lebih menenangkan dari sebuah pelukan. Dia yang menjanjikan pertemuan, entah dengan kedatangan, atau penantian. Kuyakini, bentangan jarak akan bersama-sama kami lipat dalam satu genggaman tangan.
Senja, aku berjanji setelah ini, tak lagi menudingmu penipu. Sebab kusadari, kau memang tak pernah menjanjikan jingga dua belas bulan kemarin akan kembali dengan rona yang sama.
Baiklah, ini sudah menjelang malam, aku harus pulang. Titip doa, agar kisah bahagia ini, tak lekas-lekas berganti duka.
annisayus - Banjarmasin, September 2012

Tidak ada komentar: