Dua belas bulan,
kau bermain diam tanpa cela.
Menantangku
bertarung menghitung antara kau dan aku,
Siapa yang
terbanyak punya rindu.
Sedang aku tak
peduli siapa yang paling,
sama sekali tak
penting.
Sebab dalam
hening, doaku sedang bising
Melafalkan kebaikan
atas namamu di tiap sujudku.
Dan nanti, sampai
tak ada lagi aku yang menanti,
apalagi mencari.
Kau yang batu,
telah kusemayamkan ceritamu
di bilik terdalam
hatiku.
Aku tahu kemana
harus sesekali menziarahi, jika sudah terlampau rindu.
Ke pusara hatimu
yang telah terkubur
gundukan kenangan
dengan nisan tak bernama.
Jangan marah pada
tanah merah; jangan pernah.
Jangan marah –
karena aku-pun tak pernah marah ketika kau mengaminkan kita berpisah.
Lalu biarkan yang
kelam menjadi buram oleh malam
Semoga tak ada
lagi pilu yang muram.
Sejatinya ganjil
yang tak bisa tergenapkan adalah bilangan satu.
Dan bukan aku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar