29 Agu 2012

Kepadamu, yang batu.


Dua belas bulan, kau bermain diam tanpa cela.
Menantangku bertarung menghitung antara kau dan aku,
Siapa yang terbanyak punya rindu.

Sedang aku tak peduli siapa yang paling,
sama sekali tak penting.
Sebab dalam hening, doaku sedang bising
Melafalkan kebaikan atas namamu di tiap sujudku.

Dan nanti, sampai tak ada lagi aku yang menanti,
apalagi mencari.
Kau yang batu, telah kusemayamkan ceritamu
di bilik terdalam hatiku.
Aku tahu kemana harus sesekali menziarahi, jika sudah terlampau rindu.

Ke pusara hatimu yang telah terkubur
gundukan kenangan dengan nisan tak bernama.
Jangan marah pada tanah merah; jangan pernah.
Jangan marah – karena aku-pun tak pernah marah ketika kau mengaminkan kita berpisah.

Lalu biarkan yang kelam menjadi buram oleh malam
Semoga tak ada lagi pilu yang muram.
Sejatinya ganjil yang tak bisa tergenapkan adalah bilangan satu.
Dan bukan aku.

Tidak ada komentar: