Bangku kuliah mempertemukan aku-kau. Bertegur sapa dan saling tau nama seperti itu saja di tahun pertama. Nothing special. Tahun kedua, dan kau mulai intens mencandaiku mengekori kemana pun aku. "Memanfaatkan waktu kuliah yang hanya sekali seminggu", katamu.
Kita belajar di fakultas yang sama, jurusan dan kelas yang sama. Hanya saja kita bekerja untuk instansi dengan spesialisasi pekerjaan berbeda. Kau pidana, dan aku perdata. "Berbeda tapi saling melengkapi, serasi", katamu dengan aksen menggoda.
Tadi pagi, sms alert ponselku berbunyi, pesan dari mu. Ajakan makan siang bersama. Berbekal alasan " mau sekalian minta tolong cek tugasku. Sudah benar kah atau masih ada yang mesti diperbaiki kah?". Klasik, tapi cukup membuat daguku terangkat ke atas sedikit. Bangga. Kenapa mesti bangga? Karena dari yang ku perhatikan, kau cukup cerdas. Not a plagiat person like mostly all of the guy in our class. Tak jarang mendapatimu sedang serius memahami mata kuliah diantara chit-chat sampah teman-teman lain.
Tapi aku tipe perempuan yang tidak nyaman menerima ajakan pertama, bila hanya berdua. Dan biasanya memang selalu punya alasan menolak yang kuat. Kali ini, aku kebingungan. Antara meneruskan kebiasaan, dan merasa tidak enak menolak. Berpikir mencari alasan, tapi tidak menemukan yang paling tepat. Ya, aku memang bukan orang yang pandai mencari-cari alasan yang tidak ada.
Dan di sinilah aku sekarang, dihadapanmu. Dengan latar warna hijau dari persawahan sekitar, ditemani sejuknya terik siang. Kamu mengajakku ke salah satu tempat makan favorit di kota ini. Berupa saung-saung di pinggiran sawah. Kita duduk berseberangan di satu meja yang penuh hidangan makan siang. But hey! This is my most favorite lunch menu, dude! "How can you know this much, hah?!". See, orang pertama yang aku 'iya-kan' ajakan pertamanya. Dan so far berhasil membuatku menikmati. You, pretty boy. :)
Kau mulai mengulur waktu, padahal tau ini jam makan siang sangat terbatas. Kau berbagi cerita tanpa ku tanya. Menceritakan dengan malu-malu yang tak bisa disembunyikan, tapi tetap fasih keluar dari mulutmu begitu saja. Kriteria wanita impian mu. Yang cerdas, yang tidak menye-menye tapi tetap bisa membuatmu merasa dibutuhkan, yang ketika bersamanya kau bisa bercerita apa saja, yang tanpa diminta mendampingimu di manapun kau bertugas. But once more hey! Semua yang kau sebut kriteria tadi itu bukankah baru saja kujabarkan sebagai 'ingin jadi seperti apa aku untuk pasangan ku nanti'?! Ah, kau menggodaku lagi, but so damn, aku suka! :)
Tapi kemudian, satu kalimat terakhirmu dengan sukses merubah rasa kenyangku menjadi begah. Kalimat terakhir yang keluar dengan suara yang terdengar lebih berat dari kalimat-kalimat sebelumnya. Tawa lepasku tak pelak berubah menjadi melongo. "Iya, ingin sekali punya pendamping seperti itu. Bukan menikah cuma untuk status. Tidak lebih memilih karier daripada mendampingi suami, dan malah memutuskan tetap tinggal di kota besarnya itu. Tidak seperti,,, istriku".
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
-Banjarmasin, Mei 2012-
Prosa, fiksi, cerpen, flashfiction atau apalah namanya Pertama yang (akhirnya) berhasil saya buat.
Masih harus belajar keras. Jika ada kesamaan latar tempat atau cerita hanyalah rekayasa belaka. Semoga ada yang keberikutnya. Sekian. Thankies readers :*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar