Kamu, serupa pohon kokoh bernama kenangan.
Dedaunmu berwujud rindu berserakan.
Berkali ku bersihkan, ku buang ke perapian.
Tapi tetap saja kembali suka-suka berjatuhan.
Puluhan, bahkan ratusan.
Hingga akhirnya aku yang rebah menyerah kepayahan.
Kepada Kamu, Gusti Komang Eka Semarabawa.
Yang Ku benci, tapi pura-pura.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar