Sudahlah, Tuan,
aku jengah menjadi pendosa pemuja kenangan;
bicara dengan dinding kamar adalah ketidakwarasan
paling menghangatkan.
Tuan yang memperkenalkan dan menjanjikan kepulangan;
Di sini sepertinya tak lagi jadi rumahmu.
Atau memang tak pernah jadi rumah bagimu?
Kau alpa (lagi)~
Tuan yang mengamini perpisahan, pejuang kepergian;
Bila nanti kau kembali dan tak ada lagi aku,
ingatlah hari di mana aku berlutut memohon mu untuk tinggal.
Tuan yang kepadanya rindu tak mampu kusederhanakan;
percayalah bahwa aku telah jengah berhamba pada masa lalu,
dibuat tersudut cemburu pada kenangan.
-Banjarmasin-Minggu, 27 Mei 2012 malam sebelum tidur-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar