Terbangun dan mendapati tubuhku meringkuk; kedinginan.
Satu selimut tebal dan setumpuk kenangan bahkan tak mampu menghangatkan.
Aku rindu hadirmu, sayang.
Yang hanya dengan genggaman tanganmu saja duniaku tergenggam; nadi ku menghangat.
Yang hanya dengan pelukanmu membuat semesta seolah tak merestui musim dinginnya untukku.
Aku merasakanmu dalam tiada.
Tapi belakangan ini, tiadamu menjadi jahat sekali padaku.
Dia melukiskan masa lalu dan merubahnya menjadi bulir-bulir pilu di dua bola mataku.
Terus seperti itu, selama aku sanggup tak mati oleh rindu.
-Banjarmasin, kamar tidur. Kamis, 31 Mei 2012. Subuh sesaat setelah bangun tidur-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar