Kamu bilang, ingin kembali
Sebab di sini satu-satunya tempat
Kamu sudah dinanti sesaat setelah pamit pergi.
Kamu bilang, ingin kembali
Sebab di sini satu-satunya tempat
Kamu bisa melihat perempuanmu rebah dalam lelap
di pundakmu sementara kau mengemudi.
Kamu bilang, ingin kembali
Sebab di sini satu-satunya tempat
Kamu tidak harus terus berpura-pura kuat.
Kamu bilang, ingin kembali
Sebab di sini satu-satunya tempat
Yang paling tabah ketika kamu datang hanya untuk singgah.
Kamu bilang, ingin kembali
Sebab di sini satu-satunya tempat
Kamu masih diingini bahkan saat kamu merasa tak berarti.
Kamu bilang, ingin kembali
Sebab di sini satu-satunya tempat
Kamu begini dicintai
Sekeras ini
Oleh perempuan ini.
Tapi sayang, kamu tidak juga kembali
Entah tak menemukan jalan karena sudah terlalu jauh pergi
atau justru telah menetapkan rumah sebagai tujuan pulang.
Selamat jalan.
23 Des 2012
19 Des 2012
Tidak apa-apa, asal kamu suka.
Sayang, aku belum mendengar kabar darimu satu minggu ini. Kamu bukannya menghilang, aku tahu. Kamu hanya tidak mencariku. Katamu, untuk apa dicari karena kamu tahu aku tidak pergi kemana-mana. Ya, aku masih di sini.
Sayang, saat kamu datang bukan karena rindu. Mungkin kamu hanya sedang ingin dibutuhkan. Tidak apa-apa, asal kamu suka.
Sayang, ini desember. Bulan-mu, dan bulannya hujan. Jika ingin bermain air, kau tinggal membuat banjir di mataku. Bisa hanya dengan diammu yang beku. Tidak apa-apa, asal kamu suka.
Sayang, yang sedang kau jadikan tempat bermain-main ini, hatiku. Kau tahu? Tidak apa-apa, asal kamu suka.
Jadi sayang, tahukah kamu? Aku tidak pernah memaksakan diri untuk menjadi seperti yang kamu suka agar kamu bertahan. Aku hanya berusaha membuatmu tinggal dengan nyaman. Beritahu aku jika aku tak lagi menjadi alasan bahagiamu, jika sakitku bahkan tak mampu menjadi penyebab sedihmu, jika menurutmu aku tak perlu lagi lebih lama tinggal.
Aku tidak apa-apa. Asal kamu suka.
denyut paling nyeri...
Saat punggungmu tak lagi terjangkau pandangan,
saat itu pula jarum jam berubah menjadi belati.
Tiap detiknya menghunjam jantungku yang mendetakkan rindu paling pilu;
—berkali-kali.
Kukira setelah jumpa, rindu akan menjadi baik-baik saja.Ternyata aku salah, jarak inipun bersalah.Satu yang benar; —ketidakpastian.Ketidakpastian akan kepulangan berikutnya.
Tapi aku masih belum jera,
memaksa bayangmu keluar dari persembunyiannya,
menjadikanmu nyata walau hanya di kepala.
Lalu aku menjadi seperti gadis gila,
berbicara, bercerita dan tertawa pada siluetmu yang beku.
Seketika nadi berdenyut nyeri,
mengalirkan bulir-bulir bening yang jatuh dari sudut mata, menelusuri pipi.
Menetes pada luka menganga di ulu hati.
Aku. Kalah. Sekali lagi.
rindu di hari rabu, tepat satu minggu setelah bertemu
Aku rindu gelak tawa kita yang pecah di tengah padatnya jalanan ibukota.
Tiba-tiba.
Aku rindu kita yang berpeluh luruh berbagi udara dalam satu pagut-kecup.
Tanpa rencana.
Aku rindu.
Rindu (kamu yang di) Jakarta.
ibukota, langitmu.
Jakarta..
Ibu dari semua kota; yang paling jumawa dengan kemegahannya. Tak pernah terpikir sebelumnya, akan menambatkan cinta milikku yang sangat sederhana di sana.
Ternyata..
Oleh salah satu anaknya, hatiku terbawa. Bukan, bukan terbawa. Baiklah, kuralat. Mungkin bukan terbawa tapi aku yang mengikutinya. Dia yang bahkan tak kutemui rupanya, dia yang belum tergenggam jemarinya. Aku dan dia hanya dikenalkan oleh semesta lewat linimasa.
Katakanlah aku yang terlalu mudah jatuh cinta.
Kamu..
Kamu merangkai ratusan aksara menjadi balon-balon udara, lalu menyimpul mereka erat, sambil berlari, cepat sekali. Lalu perlahan melayang, terbang. Sendirian.
Kamu yang sedang di langit jakarta mungkin juga terlalu asik berimajinasi, hingga melupakan gravitasi.
Kamu mungkin lupa, ada sepasang kaki yang masih berpijak di tanah memapah harap yang patah, ada tubuh yang mulai lelah, lalu rebah. Kepayahan bahkan sebelum sampai di tujuan.
Jadi, jika bukan aku yang mau kau temui setiap kali bermimpi,
jika bukan ada-ku yang kau ingini;
Aku tak punya banyak mau, tapi jika boleh meminta, turunlah sebentar saja. Beritahu aku, bahwa kota ini; —dan hatimu tak akan pernah termenangkan olehku.
Langganan:
Komentar (Atom)