1 Jun 2012

...

Persediaan kopiku sudah habis.
Pagi ini kuputuskan mengganti cafein
dengan rindu yang kufermentasi
dalam bejana doa; ku teguk sendiri.

Aku punya beberapa gelas.
Tenang sayang, nanti kita bisa nikmati
secangkir berdua, kita habiskan bersama.
Saat tak ada lagi senti yang memisah.

Tetapi jangan salahkan aku
jika nanti, ketika kau cucup
ujung cangkir pertama;
terasa decap syahdu dari bibirmu
yang di tiap tetesnya bisa kunikmati dengan lidah sunyiku

Kita kembung sampai mabuk.
sampai akhirnya kita mentertawakan jarak yang kita kalahkan.
sampai akhirnya kita mentertawakan -kita- yang telah dikalahkan beda dengan telak.
sampai akhirnya kita lupa akan luka yang pasti datang (lagi) kelak.

Tidak ada komentar: