20 Nov 2012

seperti kopi

Kamu, akan selalu seperti secangkir kopi, 
mutlak meninggalkan rasa pahit, namun mengandung candu. 
Sudah lama kugilai, 
sampai akhirnya coba berhenti kusesap, 
sebab takut membuat perih di lambungku sendiri.
Tapi entah, candu macam apa yang Tuhan ciptakan hingga kamu tak ma(mp)u kuhindari.
Dan aku, hanya menjadi serupa bibir, tak sanggup berhenti menyesapmu hingga tetes paling akhir. 
Hingga tandas, tak bersisa di dalam cangkir.
Sampai akhirnya, rasa sakit di lambungku kembali. 
Lalu mati rasa. 
Sekali lagi.

19 Nov 2012

seperti ini, sepertinya.

Aku seringkali meragu pada perasaan sendiri. Tentang rasa macam apa yang punya untukmu. Benar bernama cinta, atau terpaksa. Lalu aku bertanya pada dua mata di depan cermin, tak sedikitpun kutemukan jawaban tentang keterpaksaan. Yang kudapat hanya dua pesan; —jika belum bertemu dengan cara memperjuangkan, satu-satunya yang harus kulakukan adalah bertahan.