29 Agu 2012

Dia kupu-kupu. Dia bukan jalang.


Dia hanya kupu-kupu
Bukan kunang-kunang
Yang dicipta bercahaya.

Dia hanya kupu-kupu
Yang berpatut diri di depan cermin
Sebelum menjadi petualang menaklukkan malam
Tak jarang digunjing bahkan dicerca.

Malam dia terbang, siang mereka menyebutnya jalang
Mereka yang kekasihnya-baru-saja-tadi-malam- dia belai perutnya
Dengan kepakan sayap telanjangnya.

Sayap rapuh yang terlihat kuat karena memang begitu seharusnya
Sebab di sana, di dalam kepompong tempat Ia lahir dahulu,
Banyak ulat-ulat yang dicegahnya bermetamorfosa
Agar tak segera terbang dan menjadi seperti nya.

Lalu siapa yang sebenarnya jalang?
Wahai kalian yang kekasihnya rela membayar kupu-kupu terbang malam yang kalian teriaki jalang.

Racau sebelum tidur


Aku tak sedang mabuk

hanya saja sudah mulai mengantuk.

Telah lelah bergurau dengan rindu yang tak kunjung tidur.

Bercerita tentang pilu dengan mata yang masih sembab

belum sempat memejam

bercerita tentang cinta yang ditanggung sendirian dalam diam.

Kucukupkan berserapah pada takdir, mengatur garis tangan

sebab ada ganjil yang memang tak untuk tergenapkan.

Dia satu.

Dia (bukan) aku.

...


Bukan
perkara
cemburu
pada
siapa-siapa
yang
bersanding
bahu
denganmu
hanya
terlampau
merindu
saat
pertama
bertemu
yang
entah
kapan
sang
waktu
mau
memberi
restu.

aku mencintaimu. begitu.


Demi jauh yang tak tercapai
Demi tinggi yang tak juga tergapai
Demikian aku jatuh pada cinta yang diam
Menanggung rindu sendirian
Beraninya menantang Tuhan
Mengatur garis tangan
Agar sudi memberi kesempatan
Menggenggam bagian terkecil saja di dirimu.
Jari jemarimu.
Yang dari hentakannya terlahir jutaan kata yang kupuja dalam bisu
Yang genggamannya buatku merindu dalam semu
Demikian, aku hamba yang berkhianat pada masa lalu
Lalu berpaling mengimani aksara yang kau tuliskan dalam lembaran kitab,
dan kuamini sebagai pilu.

Kepadamu, yang batu.


Dua belas bulan, kau bermain diam tanpa cela.
Menantangku bertarung menghitung antara kau dan aku,
Siapa yang terbanyak punya rindu.

Sedang aku tak peduli siapa yang paling,
sama sekali tak penting.
Sebab dalam hening, doaku sedang bising
Melafalkan kebaikan atas namamu di tiap sujudku.

Dan nanti, sampai tak ada lagi aku yang menanti,
apalagi mencari.
Kau yang batu, telah kusemayamkan ceritamu
di bilik terdalam hatiku.
Aku tahu kemana harus sesekali menziarahi, jika sudah terlampau rindu.

Ke pusara hatimu yang telah terkubur
gundukan kenangan dengan nisan tak bernama.
Jangan marah pada tanah merah; jangan pernah.
Jangan marah – karena aku-pun tak pernah marah ketika kau mengaminkan kita berpisah.

Lalu biarkan yang kelam menjadi buram oleh malam
Semoga tak ada lagi pilu yang muram.
Sejatinya ganjil yang tak bisa tergenapkan adalah bilangan satu.
Dan bukan aku.