13 Feb 2012

pada secangkir kopi..

pada secangkir kopi..
aku pernah bercerita  tentang manis seratus delapan puluh hari ..
menyesap isinya yang dingin sampai kosong melompong..
yang kemudian ku isi (lagi) sendiri begitu saja..
layaknya penyempurna mengawali hari..
aku butuh waktu melupakan sakit itu, alibiku..
dan benar saja, sampai sepertinya seratus delapan puluh hari berikutnya aku tak pernah menyentuh kopi hitam lagi..
selalu butuh krimer untuk menawar pahitnya..

sampai saat dia yang mengaku penyuka kopi (juga) datang menawarkan pertolongan..
ya, bukan sekedar tawaran tapi benar saja semacam pertolongan..
seperti kopi seduh instant, dia juga terlalu instant dalam satu kemasan meyakinkan..
aku menjuluki kami CoffeeAddict

kemudian..
pada secangkir kopi..
yang di setiap sesapannya ku ceritakan tentang semua yang serba merah muda..
dia, seolah menjadi caffein yang sempat lama tak ku rasa ada dalam cangkir kopi ku..
ketika deretan kalimatnya menjadi manis di setiap pagi dan cantik untuk pengantar tidurku..
pernah pelan-pelan ku tiupkan harapan dan ternyata ikut menguap..
kembali..
seperti secangkir kopi yang tandas, dia mengakhiri sesapan terakhirnya dengan tergesa..
hanya enam hari...

sekarang bila semua serba sepertinya hitam atau layaknya putih, bisakah aku percaya pada abu-abu sebagai pilihan?!




Tidak ada komentar: