Berawal di sini, saat aku sebenarnya sudah bisa tau bahwa cepat atau lambat akan ada akhir di cerita ini.. Tawaran untuk tidak lebih jauh melangkah sudah pernah ku beri, walaupun sebenarnya aku ingin..
Ya, dia tau aku mau dan dia menolak tawaran itu..
Dia terus mengisi hari ku, Dia mem”bidadari”kan Ku dan aku terbiasa dgn itu semua..
Saat itu, dia pelindungku, dia itu teduh ku, dia itu hangat ku, dia itu raja ku, dia itu hari ku..
Dia yakinkan aku bahwa semuanya akan baik-baik saja..
Ketakutan terbesarnya saat itu adalah kehilangan ku..
Bahkan tak jarang Dia menangis karna itu..
Ya,, dia yang tangguh menangis untuk ku, karena ku..
Selalu ada penyesalan karena itu..
Sampai pada saat di mana aku, kami melupakan resiko..
Aku, kami meyakini yg kami ga tau pasti fakta yang belakangan kami rasakan buktinya..
Bahwa kami berbeda dan tidak akan bisa sama..
Dan keadaan mulai kacau, entah bermula dari mana..
Hari-hari terasa berat, tak ada lagi hangat..
Aman tak ku dapat nyaman tak ku rasa..
Dan saat itupun aku masih membangkang karna rasa ku yg memerintahkan seperti itu..
Ya, aku tak siap atas resiko yg sudah ku tau pasti sebelumnya..
Aku yg memaksamu untuk tetap tinggal sementara kata mu, kamu sangat tertekan..
Di tengah kekacauan Aku berusaha berbicara pada Tuhan ku yg ku yakini Maha pemberi yg Terbaik itu, saat itu aku lebih banyak meminta padaNya..
Aku masih mencoba naif, aku sok bijak bilang “ Ya Allah jika dia baik untuk Ku permudah jalan Kami, tp jika menurut Mu Aku bukan untukNya jauhkan dia dan buang cinta Ku untuk Nya”
Aku selalu bisa sedikit lebih tenang saat sajadahku terbentang, dan saat sajadah ku terlipat kembali, aku merasa didekatkan dengannya, Cintaku..
Dia menangis dengan ku, dia memeluk ku, tak membiarkan ku sendiri..
*belakangan kenyataan kembali memaksaku menyadari bahwa itu ternyata hanya perasaan ku saja*
Ternyata pertahanannya hanya berlangsung sebentar dan dia menghilang..
Bukankah sebelum ini dia yg tak bisa tak ada aku? Dia yg mencariku jika aku terlambat memulai hari kami... Aku rindu marahnya, aku rindu tangisnya..
Aku masih percaya diri meyakini bahwa tak akan bisa lama jauh dari ku, tapi nyatanya ia tak kembali, bahkan saat aku mencarinya, Ia tau aku menunggunya dan dia tak datang..
Celakanya aku ga terima, aku lupa pernah berdoa minta dijauhkan kalau Tuhan mau, aku lupa andil Tuhan ku atas itu.. Iya, manusia memang begitu, tidak sadar doanya sudah dijawab kalau itu belum menurut kehendaknya.. Manusia suka seenaknya sama Tuhan nya.. Dan aku termasuk ke dalam manusia yg seperti itu..
Saat itu yang tak ku terima Tuhan hanya menjawab kalimat awal doaku, Tuhan belum berkenan menghilangkan perasaan Ku untuk dia.. Mungkin memang itu tugas ku sendiri karna perasaan ini tumbuh juga murni karna aku sendiri..
Mengakhiri yg seharusnya diakhiri..
Waktu mengetik kalimat terakhir di postingan sebelum ini aku masih belum yakin sepenuhnya kalau ini memang sudah berakhir dan memang harus diakhiri..
Tapi setelah semua yang terjadi dalam 2 hari terakhir, aku dipaksa untuk bisa meyakini itu semua…
Dia yang *pastinya* dengan sengaja membawa sesuatu yg teramat memukulku di ruang yg bisa dilihat senua orang..
Sakit??
Seberapapun seringnya aku bilang ini sakit, aku tulis, aku ceritakan bagaimana sakitnya juga tak akan cukup mewakili sakitnya di sini, di bilik-bilik jantungku..
Rasanya oksigen yg ku butuhkan untuk tetap hidup pun ikut menyebar dgn ganas menyesakkan rongga itu..
Seketika aku merasa enggan bernafas, tapi sayangnya itu tak bisa ku atur sendiri..
Dia tak bisa berhenti begitu saja atas perintah otak maupun hati..
Aku bisa aja merusaknya sendiri, bahkan sudah hampir ku lakukan..
Tapi sisa-sisa akal sehatku menyelamatkan ku dari kebodohan, dan aku berhasil bertahan dengan raungan, isakan, dan sisa kenangan..
Iya Ini berakhir..
Iya ini menyakitkan…
Iya, Ini perih…
Untungnya aku punya saudara, teman yg hebat yg bisa menahan kebodohan ku, menarikku dari keterpurukan.. Aku tidak bertahan lama meratapi takdir ku..
Aku kembali membangunkan ego ku, demi menyelamatkan hati ku..
Aku berpikir lagi, ga ada yg bisa menjamin kalau di sana dia juga seperti ku..
Mungkin memang dari awal ini sudah dirancang seperti ini dan aku lah bagian dari permainannya..
Atau memang di awal aku bidadarinya dan di tengah jalan tibatiba dia jengah dengan ku dan dia merancang ini semua..
Ahh, ak tidak mau mendahului Tuhan tapi memang tidak ada yg bisa menjamin kan saat itu dia tidak mempermainkan Ku..
Yang ku liat dan yg sengaja ia perlihatkan adalah di sana , di sampingnya sudah ada seseorang yang menggantikan ku
Aku memutuskan untuk tetap terlihat baik-baik saja, aku tidak mau membuat mereka saudaraku temantemanku orangtua tersayangku repot karena kebodohan buatan ku..
Dan disini aku sekarang, walaupun dgn batin yg sedang berdarah aku masih berusaha bisa tegar..
Aku mencoba berdamai dengan hati untuk bisa melepaskan yg tak tergenggam..
Karena memang seperti itu seharusnya, seorang Hamba senang atau tidak, mau atau tidak harus bisa ikhlas atas kehendak Tuhan untuk hidupnya..
Dear You..
*Terimakasih untuk manis yang kamu beri dan indah yang kamu bagi.. Tak pernah ku sesali..
*Janji Mu waktu itu yg ku pegang, yang membuatku larut dan akhirnya menjadi pembangkang..
*Saat kamu menceritakan bahwa semua sudah kacau, jika ada yg harus disalahkan saat itu adalah kamu, tp itu tak ku lakukan, dan aku memilih memohon agar kamu bisa ikut bertahan..
*Diam mu saat itu memang menyakitkan ku tapi setidaknya aku tak pernah menyalahkan mu atas itu.. Aku tak pernah merasa tersakiti oleh Mu..
*TAPI KENAPA TIBA-TIBA KAMU MUNCUL DENGAN SESUATU YANG KAMU TAU PASTI ITU MENYAKITKAN KU.. AKU TAU ITU KAMU, ITU TANGAN MU, BENTUK KUKU MU PAKAIAN MU DAN BUKAN AKU YANG DISITU..
MANA JANJI MU??!! DIMANA HATI MU??!! KEMANA PERASAAN MU???!!!!
*Kecuali memang saat itu kau jengah dengan ku dan merancang ini semua seperti ini, dan aku adalah bagian dari permainan mu..
*Terimakasih teruntuk kamu, jika bukan sakit macam ini yang ku rasa maka aku akan terus menjadi sok bijak sok pintar dan sok kuat.. Terimakasih ini kau beri karna ini yang membuat Ku setidaknya berusaha lebih kuat agar bisa terlihat baik-baik saja..
Semoga esok mu, esok ku lebih baik..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar