28 Mei 2011

Saat pikiran itu terbuka, Saat hati itu diterangkan..

Sejauh ini Kita hanya bisa mencintai sesuatu yang sama atau yang Kita anggap Lebih baik dari Kita..
Dengan angkuh menutup diri untuk orang-orang yg berbeda atau yang Kita rasa "Tidak Lebih Baik Dari Kita"
Selalu merasa benar atas aturan yang Kita tetapkan sendiri,
menerapkannya dengan persepsi Pikiran sempit kita..
Tanpa menyadari untuk apa sebenarnya Tuhan menciptakan makhlukNya tidak dalam wujud yg sama rata..

Sementara atasa Kuasanya Ia bisa saja menciptakan Umatnya sama, berbakti.. 
Ia bisa saja menciptakan Kita dalam wujud Malaikat..
Tanpa dosa, Tak bernafsu..

Lantas bila itu terjadi,
Akankah ada Putih sementara Kita Tidak pernah menemui Hitam?
Tentu semua akan menjadi samarata..

Bahwa Tuhan menciptakan Kita berbeda untuk mendidik Kita agar bisa menghargai..
Untuk mendidik Kita agar menjadi manusia yang Arif..
Membuka Hati dan fikiran Kita utk tdk selalu merasa lebih baik..

Bahwa Kesalahan itu diciptakan untuk menuju Kebenaran..
Bahwa Perbedaan itu ada untuk disatukan..
Seperi dosa, Taubat, dan Pengampunan Nya itu ada atas KuasaNya yg Maha Arif.
untuk mendidik, menegur, dan memperbaiki..

Lantas di mana hak manusia utk menghakimi, mencerca, dan menolak manusia LainNya?
Lalu kenapa harus ada penolakan atas perbedaan? 

Dengan prasangka yg timbul atas sugesti-sugesti yang Kita buat sendiri,
tentang seseorang yg berbeda,
yang menutup pikiran Kita dan berakibat fatal utk orang-orang sekitar..
Orang sekitar yg memang ingin Kita jaga,,
Tapi tanpa sadar Kita telah merampas batas hak atas hatinya..
Hatinya yang bertemu dengan Perbedaan..

Tanpa pernah tau betapa rapuhnya hati orang di sekitar Kita itu sebelum bertemu dengan Perbedaan itu..
Betapa Ia terdzalimi hatinya karena mempertahankan seseorang yg Kita anggap benar..

Sementara seorang yg Berbeda itu ingin sekali menyatukan diri dengan kita,
berusaha sekuat hati untuk penerimaan Kita..
Dengan kerelaan melepas sesuatu yang telah lama Ia Yakini dan Ia punya..
Hanya untuk sebuah kata Klise, RESTU.

Ya,, kita manusia denga segala ego dan posesif kita..
Menginginkan segala yg Lebih Baik dan terbaik untuk kita dan orang sekitar.
Orang sekitar???

Baiklah,, disadari atau tidak yang Kita terapkan dan tetapkan sekarang adalah yang terbaik,
HANYA UNTUK KITA.
Tanpa kita tau Mereka terseokseok memperjuangkan kemenangan Hatinya..
Tanpa Kita tau ia telah puluhan kali mengorbankan perasaannya..

Saat semuanya memungkinkan baginya untuk keluar, pergi bahkan berontak
meninggalkan lingkaran hidupnya di bawah aturan kita.. 
Saat baginya mudah saja memenangkan hatinya..
ketika ia biasa saja beranjak dengan ataua tanpa restu Kita..

Tapi liat saja, Ia memilih untuk tidak melakukan itu..
Ia masih takut akan Murka Kita,
Ia masih Takut Tuhan..

Bagaimanapun, dengan segala idealismenya ternyata Ia tetap tak sanggup menjadi dan mempersebahkan apa yang Kita ingini..
Ia memilih untuk tetap berjuang walau Ia tau itu semua akan mengiris..
Bahkan Ia sendiri pun tak berani meyakini keberhasilannya..
Yang ia tau hanya bahwa "akan ada hasil untuk setiap usaha, dan akan ada akhir yg baik utk segala niat baik"

Tapi bahkan hal itu tak pernah terpikirkan oleh kita..
Kita trus mececarnya, menekannya,
seketika berubah menjadi diktator yang tak enggan menyingkirkan apapun yg tak sesuai dgn yang Kita ingini..
Tanpa sekalipun memikirkan,
tak pernah mau tau seberapa perih dampak dari congkaknya jiwa kita..

Dan apa vonis Kita atas apa yg telah Ia lakukan yg Ia yakini sebagai perjuangan?
Dosa.
Betapa sombongnya kita menetapkan dosa atas manusia sementara hanya Tuhan yang berhak memvonis makhluknya..

Indah memang hidup ini bila semua yg Kita inginkan terjadi,
Kita mendapat yang terbaik.
Tentu alangkah lebih indah bila kita bisa menerima dan menyatukan perbedaan,
tak bisa disangkal itu akan menjadi keindahan yg tak terperi, terbaik utk Kita, dan Mereka.

*TerangkanHatiBukakanPikiranmerekaYaAllah*